Oleh: onewords | Juli 6, 2016


Wow, Serpong – Semarang 22 Jam

Lebaran 2016 mempunyai cerita sendiri dalam hidup ini. Pertama kalinya ikut mudik ke kampung halaman orang lain, padahal, tidak tahu halaman yang mana 😄.

Berangkat dari Serpong jam 5 pagi dan sampai Semarang tepatnya di hotel daerah Simpang Lima) jam 3 dini hari. Secara badan rasanya capek itu sudah pasti. Tapi banyak pelajaran yang di ambil dari perjalanan selama 22 Jam Serpong – Semarang.

Sebenarnya, perjalanan yang berjarak lebih kurang 480 km dengan tempuh waktu 8-9 jam, hanya mengalami kemacetan di tol di daerah Brebes. Ini adalah pengalaman yang saya alami, berbeda dengan beberapa pemudik yang mengalami kemacetan juga.

Pelajaran yang di dapat dari perjalanan ini adalah :

1. Selalu Ada Peluang Bisnis
Situasi kemacetan yang panjang ini ternyata membuat peluang bisnis bagi penduduk yang daerahnya di lewati pemudik. Banyak yang menjadi “pembisnis dadakan” yang saya temukan dalam perjalanan ini. Selain seperti biasa penjual asongan (minuman, permen, rokok dan lainnya), ada juga penjual kipas, karena situasi kemacetan ini membuat panas yang berkepanjangan. Selain itu, ada juga yang membuka rumahnya sebagai toilet umum, yang pasti harus membayar, padahal rumah tersebut adanya di pinggir jalan tol, yang seharusnya tidak bisa dan tidak boleh ada akses antara rumah dan jalan tol. Dan mungkin ini hanya bisa terjadi di Indonesia saat mudik Lebaran, yaitu menjadi tukang parkir di dalam jalan tol.

Jadi dalam situasi apapun, jika berkehendak sungguh-sungguh selalu ada peluang bisnis yang bisa kita kelola, perkaranya apakah kita melihat dengan jeli kesempatan yang ada sehingga terjadi peluang bisnis.

2. Mengucap Syukur
Saat terjadi kemacetan yang sangat-sangat panjang dan melelahkan, pasti rasa kemarahan dan sangat mendalam yang sepertinya ingin kita teriakan. Tetapi dari semuanya itu mengucap syukur lah yang harus kita panjatkan kepada Tuhan.
Banyak rasa syukur yang dapat kita panjatkan dalam kemacetan 22 jam ini, yaitu:
– Bersyukur karena masih bisa “pulang kampung”, banyak di luar sana yang ingin pulang kampung tetapi tidak mempunyai kesempatan
– Bersyukur, walaupun sepanjang perjalanan mengalami lapar, masih bisa makan, karena sebagian yang pulang kampung mengikuti puasa.
– Bersyukur saat kemacetan terjadi kendaraan yang dikendarai masih lebih baik dari sebagian besar yang memakai kendaraan tanpa AC
– Bersyukur walaupun macet, kami hanya jalan-jalan, karena sebagian besar pulang kampung dengan perasaan was-was karena takut tidak bisa mengikuti Taraweh dan sholat Ied.
– Bersyukur untuk keselamatan dan kekuatan yang diberikan karena banyak kendaraan yang keselamatan dan bahkan mengalami kematian dalam perjalanan.

Berpikir positif, cari peluang dan mengucap syukur.

Semarang, 6 Juli 2016

View on Path

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: