Oleh: onewords | Mei 15, 2016

Bel Kuil Chingfu


Bel Kuil Chingfu
Di kota tua Qianzhuo berdiri sebuah Kuil Chongfu yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Kepala biaranya adalah seorang laki-laki yang sangat terkenal. Ia mengumpulkan dana untuk membeli sebuah bel raksasa, bel yang dapat dibanggakan oleh biksu dan penduduk Kota Quanzhuo.

Dengan mangkok di tangan, ia sendirian mengumpulkan sedekah dari orang-orang. Ia meninggalkan rahib yang masih muda untuk menjaga kuil ini selama ia keluar.

Suatu hari, seorang perempuan tua, berbadan besar dan berwajah seram, terpincang-pincang memasuki halaman kuil.

“Shifu,” dengan hormat ia bertanya pada rahib muda itu, “di mana kepala biara?”
“Dia sedang keluar mengumpulkan sedekah untuk membeli bel kuil ini,” jawabnya.
“Oh, membeli sebuah bel itu adalah sesuatu yang baik!” 
Sesaat matanya berbinar lalu berpaling melihat ke dalam tasnya mencari sesuatu. “Aku juga ingin membantu sedikit. Sayangnya, aku sudah tua dan tidak punya banyak uang. Tolong terima koin perak kecil ini.” Lalu ia memberikan sebuah koin perak kepada rahib muda itu.
Rahib muda itu melihat koin dan tersenyum sinis. “Aku pikir kamu tidak benar-benar mengerti apa yang sedang dilakukan oleh kepala kuil kami. Ia tidak mengumpulkan sedekah hanya untuk sebuah bel mainan. Kuil kami mau membeli bel paling besar yang pernah dibuat di wilayah ini. Lebih baik kamu ambil kembali koinmu ini, karena ini tidak berarti apa-apa untuk kami.”
Tiga kali perempuan itu berusaha untuk menyumbangkan koinnya, tiga kali pula ia ditolak dengan kasar. Akhirnya, ia mengambil kembali koinnya dan pelan-pelan ia berjalan keluar dari halaman kuil itu. Rahib muda itu kemudian kembali mengerjakan pekerjaannya. Akhirnya, sumbangan terkumpul dalam jumlah yang sangat besar dan akan digunakan untuk membeli bel raksasa. Tetapi aneh sekali. Ketika bel itu selesai, mereka menemukan kerusakan. Di sepanjang bibir bel, ada retakan sebesar koin yang terlihat sangat jelas. Kerusakan yang tidak masuk akal ini akhirnya diperbaiki. Namun, ketika bel ini dibunyikan untuk pertama kalinya, tambalan yang menutup keretakan itu terlepas dari belnya. Segala cara sudah dilakukan untuk memperbaiki bel ini, tetapi keretakan itu tetap ada. Konon retak pada bel itu masih ada sampai sekarang.
Konon, celah ini disebabkan oleh Dewi Belas Kasihan, Guanyin, yang memberi pelajaran kepada rahib muda yang nakal itu.

PESAN
Mana yang lebih penting–harga sebuah hadiah atau semangat yang diberikannya? Contoh paling mudah, sebuah hadiah kecil yang sepertinya tidak berharga, dapat menjadi sebuah hadiah yang sangat berharga sekali. Jangan pernah merendahkan hadiah seseorang yang diberikan dengan tulus, betapa pun kecil nilainya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: