Oleh: onewords | Agustus 30, 2013

Menerima Tanggung Jawab


Ketika industri dimulai, urutan prioritas yang diutamakan adalah pertama manusia, kedua metode, dan ketiga mesin. Tapi ketika manusia mulai mengalami penurunan kualitas, orang-orang di Amerika dan Eropa mulai mengganti posisi urutan pertama bukan lagi manusia melainkan mesin. Sehingga muncullah abad komputer, semua dimesinkan, robot mulai dikenal dan dipergunakan. Tenaga manusia tidak lagi dipergunakan, karena dianggap merugikan dan menyusahkan perusahaan. Akibatnya, manusia mulai resah, mulai bertanya-tanya apa yang menjadi penyebabnya. Ternyata yang menjadi masalah bukan kepandaian manusia, bukan ilmu pengetahuan manusia, tapi yang menjadi masalah adalah sikap (Attitude) manusia itu sendiri. Ketika manusia menyadarinya, maka lahirlah suatu kegerakan untuk memperbaharui sikap hati dari manusia itu sendiri, yaitu keberanian untuk menerima tanggung jawab.

Pada hari-hari ini sulit sekali untuk menemukan orang yang bisa bertanggung jawab, karena banyak orang yang tidak memiliki sikap yang positif. Ketika terjadi kesalahan, maka orang mulai menyalahkan orang lain. Orang saling menyalahkan, mencoba membela diri dan tidak pernah mau mengakui kesalahan dan bersedia menerima hukuman. Kita tidak berani bertanggung jawab.

Keberanian menerima tanggung jawab adalah suatu hal yang mulia. Ada pepatah yang mengatakan, “Tanggung jawab mengendap kepada orang yang dapat memikulnya”. Jadi kalau kita sanggup menerima tanggung jawab, maka tanggung jawab itu akan diberikan kepada Saudara dan akibatnya setiap orang yang menerima tambahan tanggung jawab sebenarnya sedang memberikan promosi bagi dirinya sendiri. Jangan takut untuk mengatakan “Ini salah saya, ini tanggung jawab saya”, karena walaupun kita dihukum, tapi orang-orang akan menghargai kita.

Menerima tanggung jawab merupakan tanda kedewasaan kita. Pada keadaaan sulit, maka banyak orang yang akan melepaskan tanggung jawab, dan hanya orang-orang yang mempunyai sikap positiflah yang berani untuk mengambil tanggung jawab.

Gubenur New York City, Rudy Giulani, ketika terjadi peristiwa 911 dia berkata bahwa ini adalah tanggung jawabnya. Tidak ada yang memintanya, bahkan Presiden AS pun tidak. Siang malam ia terus bekerja sehingga korban yang jatuh dapat diamankan. Namanya mulai dikenal diseluruh dunia. Dan ia diundang sebagai pembicara dalam forum-forum internasional. Buku yang ia tulis pun laris dibeli. Masalahnya sederhana, ia berani mengambil tanggung jawab.

Dalam bukunya ia mengatakan, “Ketika orang lain lari dan kebingungan harus berbuat apa, saya menempatkan diri saya di tengah-tengah masalah karena saya mau bertanggung jawab sebagai Gubenur kota ini”.

Wiston Churcill mengatakan, “Harga sebuah kebesaran adalah tanggung jawab”. Oleh karena itu, bila kita ingin menjadi orang besar, belajarlah bertanggung jawab mulai dari tanggung jawab yang kecil.

Sebuah contoh yang sederhana mengenai tanggung jawab dari perkara kecil. Suatu saat di kelas pendalaman Alkitab sebelum pelajaran dimulai, seorang peserta menegur temannya yang rupanya lupa menyiram toilet setelah memakainya. Mendapat teguran itu, ia langsung bertindak pergi ke toilet dan menyiramnya.

Jagan menghindari tanggung jawab dengan mengatakan “Semua orang juga melakukan hal yang sama”. Ingat, ada perbedaan antara orang yang percaya dengan orang tidak percaya. Sebagai orang percaya kita harus mempunyai sikap yang positif. Hanya orang yang bersikap positif yang dapat memberikan pengaruh kepada orang di sekitarnya.

Bilangan 11:11-12 Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: “Mengapa Kauperlakukan hamba-Mu ini dengan buruk dan mengapa aku tidak mendapat kasih karunia di mata-Mu, sehingga Engkau membebankan kepadaku tanggung jawab atas seluruh bangsa ini?
Akukah yang mengandung seluruh bangsa ini atau akukah yang melahirkannya, sehingga Engkau berkata kepadaku: Pangkulah dia seperti pak pengasuh memangku anak yang menyusu, berjalan ke tanah yang Kaujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyangnya?”

Saudara, Musa menjadi besar bukan karena postur tubuhnya besar, atau karena otaknya besar, atau karena kepandaiannya, tapi Musa menjadi besar karena tanggung jawabnya yang besar. Sekalipun tanggung jawabnya besar, tapi Musa tidak pernah lari dari tanggung jawabnya, sehingga sampai kematiannya ia dikenal sebagai orang yang besar. Ketika ia tidak sanggup untuk melaksanakan tanggung jawabnya ia tidak bersungut-sungut, ia justru lari kepada Tuhan dan meminta kekuatan dan hikmat.

Demikian juga dengan kita dalam pekerjaan. Ketika tanggung jawab diberikan kepada kita dan sepertinya kita tidak sanggup untuk mengerjakannya, jangan bersungut-sungut! Jangam pernah berdoa agar Tuhan melepaskan kita dari tanggung jawab. Itu salah! Tapi sikap yang benar adalah berdoa agar Tuhan untuk memberikan kekuatan dan hikmat-Nya sehingga kita mampu mengerjakan tanggung jawab itu.

“Setiap orang yang menerima tambahan tanggung jawab sebenarnya sedang memberikan promosi bagi dirinya sendiri”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: