Oleh: onewords | Mei 17, 2012

Eleanor Roosevelt


Seorang “gadis kaya yang malang” menjadi Ibu Negara Amerika yang paling dicintai dan humaris dunia yang paling terkenal.

Terlahir dalam keluarga kaya raya, Eleanor Roosevelt tidak tampak seperti calon seseorang yang akan mengalami kisah kehidupan yang penuh kesulitan. Sebagai anak perempuan dari tokoh terkemuka di New York, Eleanor tumbuh di rumah yang sangat mewah dan nyaman. Koneksi Eleanor dimulai dari pamannya, Presiden Theodore Roosevelt dan berlanjut dengan orangtuanya: playboy yang sangat terkenal dan pemburu yang hebat, dan pendatang baru paling menarik di New York.

Namun Eleanor benar-benar gadis pemalu, secara fisik kaku, dan secara sosial aneh. Ia sangat diabaikan oleh ibunya, yang sangatkecewa atas kepolosan dan sikap kurang anggun Eleanor, memanggilnya “Nenek” di hadapan para tamu. Eleanor baru berusia 8 tahun ketika ibunya meninggal karena difteria, tetapi paling tidak ia mampu bersandar pada ayahnya. Ia mengidolakan pria yang suka bersenang-senang itu, yang penuh kasih sayang serta perhatian—bila ayahnya punya waktu. Sebagai seorang alkoholik, ia pernah meminta Eleanor yang waktu itu berusia 9 tahun untuk menungguinya di luar klub pria untuk minum-minum sebentar. Enam jam kemudian, ia melihat ayahnya dibawa ke luar, dalam keadaan tidak sadar oleh pelayan klub dan memanggil taksi untuk mengantar ayahnya ke rumah. Ayahnya tentu saja diusir dari rumah dan kembali minum-minum hingga ajal menjemputnya tak lama kemudian.

Eleanor muda tinggal dengan neneknya, kehidupannya sedikit lebih stabil tetapi tidak lagi nyaman. Ia tidak diizinkan bermain, diharapkan hadir tetapi tidak boleh bicara. Bibi, paman dan sepupunya—beberapa di antara mereka juga alkoholik—tidak memiliki waktu untuknya. Karena secara keseluruhan suasana di rumah itu suram, tidak ada teman yang mau berkunjung, sehingga Eleanor tidak dapat beradaptasi dengan situasi sosial saat ia menginjak usia remaja. Karena aturan ketat zaman Victoria membatasi gerakannya, Eleanor tidak bisa bergerak kemanapun. Ia terjebak di batas kehidupannya sendiri, merasa seperti orang luar di antara teman sebaya dan keluarga sendiri.

Sekolah berasrama memberi Eleanor jeda yang singkat dan menyenangkan dari masa kecilnya yang suram. Kepala sekolahnya melihat potensi Eleanor, dan di bawah pengawasannya, Eleanor menjadi kesayangan sekolah, dicintai oleh para guru dan siswa. Dalam waktu tiga tahun yang singkat ia berkembang, berbicara di dalam kelas, memimpin organisasi, dan bahkan mengikuti berbagai jenis olahraga. Namun masa keemasan ini dihentikan oleh nenek Eleanor dan membawanya kembali ke New York pada usia 18 tahun untuk berbaur dengan masyarakat. Eleanor takut dan tidak suka dengan seluruh proses itu. Semua orang terlalu memerhatikan kalau ia adalah gadis pertama dalam keluarga yang menjadi perempuan favorit tahun itu, ia meninggalkan arena dansa lebih awal. Namun, ia tetap meneruskan kewajiban menghadiri pertemuan sosial, ia biasanya diberi tempat duduk di samping tamu yang lebih tua pada jamuan makan malam karena ia dikenal dewasa dan pandai berbincang-bincang.

Sepanjang tahun perempuan yang memulai debutnya itu bergabung dengan Junior League, organisasi sosial perempuan yang berusaha keras membela kepentingan sosial. Eleanor menemukan tempatnya dalam masyarakat di sana, meremehkan pesta pengumpulan dana yang diikuti oleh kebanyakan gadis dan menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan kasar. Pada zaman ketika perempuan tidak diizinkan untuk meninggalkan lingkaran sosial, Eleanor bersedia pergi ke tempat kumuh di Lower East Side, New York City untuk memberi pengarahan tentang tempat tinggal untuk para gadis imigran. Tergerak oleh lingkungan kerja para gadis tersebut, ia pun bergabung dengan Consumer’s League, yang mengunjungi pabrik untuk mengamati kondisi kerja. Eleanor sedih melihat perempuan yang bekerja 14 jam sehari termasuk anak bersusia 4 tahun. Ada sesuatu mengenai marginalisasi para imigran ini yang membuatnya tergerak.

Untungnya, ia mampu membagikan pengalaman tersebut dengan seorang teman baru. Ia bertemu dengan sepupu Franklin Delano Roosevelt dalam lingkungan sosialnya dan mengundang murid Harvard yang gagah itu untuk menemaninya dalam acara amal. Franklin terkesima dengan kecerdasan dan kelembutan hati Eleanor. Ia juga tergerak oleh kemiskinan yang dilihatnya. Itu adalah pengalaman yang di bawanya sepanjang jalan menuju Gedung Putih; ini bukanlah kali terakhir Eleanor mengenalkan Franklin pada masalah yang penting atau penderitaan yang tidak terlihat.

Perkawinan Eleanor dan Franklin akhirnya membuat Eleanor menemukan orang yang seimbang dalam segi intelektual, tetapi ia merasa tertekan oleh peran barunya sebagai istri dan ibu. Setelah menikah, ia kembali merasa bahwa pilihannya sangat dibatasi. Peran sebagai ibu dari lima anak tidak mudah bagi Eleanor, ia kurang pandai dalam memberikan pola asuh yang positif. Ia mengalami depresi. Ibu Franklin yang senang mengatur membuat seluruh keputusan bagi pasangan tersebut, bahkan meminta rumah yang bersebelahan di New York dengan pintu penghubung di setiap lantainya. Eleanor takut kalau ia menerima hal itu mentah-mentah maka ia akan menjadi seperti yang mereka inginkan, apalagi membiarkan selera dan minat mereka mendominasi dirinya. Karena ia melawan perlakuan ibu mertuanya, ia diadukan pada suaminya. Ini membuat berita tentang perselingkuhan suaminya dengan sekretaris sosialnya lebih sulit dihadapi. Ia meminta cerai, suaminya menolak dan berusaha memperbaiki perkawinan mereka. Sejak itu perkawinan mereka hanyalah sebatas hubungan politik.

Hubungan itu menemui tantangan terberatnya ketika Franklin terserang polio. Lumpuh dari pinggang ke bawah, suaminya terpaksa melepas karier politiknya yang saat itu sedang berkembang dan menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat rehabilitasi. Di samping merawat suaminya yang sakit, Eleanor terpaksa mengambil alih peran suaminya sebagai kepada keluarga. Ia menjadi ibu sekaligus sebagai ayah bagi anak-anaknya, belajar berenang sehingga ia dapat mengajar mereka dan mengantar putranya ke perkemahan di hutan belantara Kanada. Ia juga mulai mengambil sikap pada ibu mertuanya yang bersikeras untuk mengambil alih perawatan Franklin sendiri.

Dalam hidupnya setelah itu, Eleanor menyemangati orang lain, “Anda harus melakukan hal yang Anda pikir tidak dapat Anda lakukan,” ia pasti berefleksi pada titik balik ini. Yang paling Franklin butuhkan adalah usaha Eleanor di luar rumah sebagai pelobi aktif bagi aspirasi politik Franklin. Setelah menemani suaminya dalam perjalanan kampanyenya, dan kesuksesannya sebagai sukarelawan pada masa perang untuk Palang Merah dan League of Women Voter, Eleanor untuk sementara menerjukan dirinya dalam dunia politik. Pernah dikejutkan oleh ide hak pilih bagi perempuan, sekarang ia justru bergabung dengan divisi perempuan di Partai Demokrat negara bagian New York, tempat ia segera mengatasi rasa malunya untuk bicara di depan umum dan mengelola babak baru bagi perempuan. Meningat hari-harinya di Lower East Side, ia terjun dalam masalah buruh dan mengusahakan jam kerja yang lebih pendek dan larangan untuk mempekerjakan anak-anak. Ia melakukan wawancara dan menulis kolom di koran serta majalah, dan segera nama Roosevelt dihubungkan dengan kasus progresif. Eleanor menulis bahwa serangan polio Franklin “terbukti sebagai harapan dalam keputusasaan, karena penyakit itu memberi Franklin kekuatan dan keberanian yang tidak ia miliki sebelumnya”. Hal itu mungkin juga berlaku bagi Eleanor sendiri.

Ia berusaha mempertahankan kampanye Franklin hingga ia cukup sehat untuk mencalonkan diri sebagai gubernur. Setelah menang, kemudian terpilih kembali dengan jumlah pendukung terbesar yang pernah ada di negara bagian tersebut, pencalonan sebagai presiden tinggal masalah waktu, dan kemenangan Franklin tidak terelakan. Eleanor mencemaskan kepindahan ke Gedung Putih; sekarang ia telah mengetahui kemampuannya sendiri, ia tidak ingin kehilangan kebebasannya untuk bicara dan bertindak. Namun karena ia adalah istri gubernur, ia menjadi penasihat Franklin yang terdekat—mata, telinga, dan kaki Franklin untuk berkeliling negeri dan dunia, untuk melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh Franklin.

Karena ia selalu berpergian, ia mendapatkan nama “Dimana-mana Eleanor”. Ia menulis kolom harian, mengadakan konferensi pers untuk sebuah perusahaan pers yang seluruhnya perempuan, dan mengajar di seluruh negeri. Ia pergi ke daerah kumuh di Puerto Rico, tambang batu bara Appalachian, dan penggarapan sawah di daerah Pedalaman Selatan. Ketika perang dunia II meletus dan pemboman terjadi, ia terbang untuk melihat keadaan para tentara di beberapa tempat yang paling berbahaya di medan perang Pasifik, memakai seragam Palang Merah untuk mengunjungi para pria yang terluka.

Merskipun tanpa dukungan terbuka dari suaminya, Eleanor menjadi pembela hak-hak sipil yang paling gigih saat itu, mencela diskriminasi, dan membeberkan hukum segregasi dalam kunjungannya ke daerah Selatan. Ketika Daughter of the American Revolution melarang penyanyi opera kulit hitam Maria Anderson, untuk tampil di auditorium mereka, Nyonya Roosevelt secara terbuka memgundurkan diri dari organisasi tersebut. Kemudian ia menyelenggarakan konser gratis di tangga Lincoln Memorial dan dihadiri oleh 75.000 orang. Sebagai peninggalan dari masa kecilnya yang tersisih, ia terus memerhatikan orang-orang yang tersisih—orang miskin, pengangguran, teraniaya—dan berusaha keras menciptakan perubahan nyata dalam kehidupan mereka. New Deal bahkan dapat ditafsirkan sebagai kebutuhan untuk memerhatikan orang yang terabaikan dalam skala nasional.

Eleanor terus menjadi penasihat para presiden bahkan setelah Franklin meninggal. Presiden Truman mengakui kemenangan humanisnya dengan memilih Eleanor sebagi delegasi AS di PBB. Sebagai pemimpin komisi PBB di bidang Hak Asazi Manusia, ia membantu menyempurnakan Undang-undang Hak Asazi Manusia, dokumen yang saat ini sangat dikenal dan mengandung pernyataan hak-hak sipil di dunia. Pada saat Nyonya Roosevelt meninggal tahun 1962, ia tepilih menjadi perempuan yang paling dikagumi di Amerika selama 11 tahun berturut-turut. Itu merupakan kehormatan yang tak ada bandingannya hingga kini.

sumber : Laura fitzgerald “30 Success Strories…” BIP – Kelompok Gramedia

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: