Oleh: onewords | Mei 16, 2012

Mohandas Gandhi


Pria yang melawan kekuasan Inggris, awalnya harus melawan kekuranggannya sendiri.

Mungkin hal yang lebih mengejutkan dibandingkan kepemimpinan, kepandaian berpidato, dan kekuatan dalam diri Gandhi yang luar biasa adalah masa kecilnya—yang dalam segala segi mengecewakan semua orang yang mengenalnya. Hanya setelah beberapa tahun usaha yang tidak henti-hentinya ia dapat menulis, “Jika Anda takut membuat kesalaha, Anda takut untuk melakukan apa pun.”

Dilahirkan dengan nama Mohandas Karamchand Gandhi, “Mahatma” (“Berjiwa Besar”) muda dianggap biasa-biasa saja dalam segala hal: murid biasa yang tidak memiliki talenta atau karunia yang menonjol dan anak laki-laki termuda dari keluarga kasta menengah dari pegawai pemerintah di kota pinggiran laut yang kecil. Sesuai dengan tradisi lokal, ia dinikahkan pada usia 13 tahun dengan putri teman keluarganya, yang mengenalnya sebagai sosok yang pemarah, iri hati dan mendominasi.

Sikapnya yang tidak menyenangkan muncul dari rasa malunya dan kurangnya percaya diri. Ia pulang ke rumah setiap hari segera setelah kelas berakhir, takut berbicara dengan teman sekelasnya kalau-kalau mereka akan mengolok-oloknya. Sebenarnya, ia dihantui oleh berbagai ketakutan yang tidak rasional dan tidur dengan lampu menyala selama masa remajanya untuk menghilangkan bayangan ular, pencuri dan hantu.

Hampir tidak lulus SMA, ia dengan patuh masuk ke universitas lokal dengan ambisi yang tidak jelas untuk menjadi dokter. Ia gagal dalam setiap pelajaran dan pulang ke rumah dengan perasaan malu lima bulan kemudian.

Dengan kasus yang tanpa harapan itu, keluarga Gamdhi memanfaatkan kenalan dan kolega mereka. Akhirnya orangtuanya mengirimnya sekolah ke Inggris untuk mendapatkan lisensi sebagai pengacara—jalan yang menjamin suatu kesuksesan tanpa perlu kemampuan intelektual yang tinggi. Gandhi menunggu-nunggu awal yang baru dan membeli pakaian Eropa yang necis untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Ketika ia tiba di London, ia menjadi bahan tertawaan—tersandung oleh buku bahasa Inggrisnya dan berpakaian flanel putih panas di saat musim gugur.

Tanpa gentar, ia belajar menyesuaikan diri dengan cepat. Dengan cepat ia mencoba berpenampilan seperti orang Inggris, membeli semua pakaian dan mengambil kelas bahasa Perancis, menari, biola dan berpidato. Namun ia segera menyadari bahwa dananya yang terbatas tidak mendukung semua kemewahan itu, dan tak lama  kemudian, ia meninggalkan hotelnya dan tinggal di kamar kecil yang hanya cukup untuk dirinya sendiri. Ia berjalan kaki di London untuk menghemat ongkos bus dan mengganti makanan Inggris yang mahal dengan makanan vegetarian dalam jumlah yang sedikit. Ironisnya, keadaan ekonomi tersebut akhirnya menjadi pusat dari pengajaran akan kesehatan dan kesederhanaan.

Sehari setelah Gandhi lulus dan diizinkan menjadi pengacara, ia pulang ke rumahnya di India, dan mengetahui kalau ibunya ternyata sudah meninggal sewaktu ia dalam perjalanan ke India. Ia mencoba mengatasi kesedihannya dengan kembali melakukan perjalanan, kali ini ke Bombay, tempat ia mencoba mengukuhkan dirinya sebagai pengacara. Namun pendidikan formalnya di London membuatnya benar-benar tidak mampu berhadapan dengan realitas hukum India. Saat ia akhirnya memenangkan sebuah kasus—klaim sebesar $10 yang sederhana—ia merasa takut melakukan pemeriksaan silang. Dengan takut, dengan suara uang tercekat di kerongkongan, ia menyerahkan laporan singkat pada rekan kerja yang lebih berpengalaman dan melarikan diri dari ruang sidang tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, suara tawa di pengadilan terngiang di telinganya.

Kembali Gandhi pulang ke rumah dengan kegagalan, dan kembali keluarganya menyelamatkannya. Kali ini saudara laki-lakinya memanfaatkan koneksinya untuk memberi pekerjaan kantoran rendahan pada Gandhi di sebuah firma di Afrika Selatan. Tidak memiliki pilihan lain, ia belayar, meninggalkan istri dan kedua anak laki-lakinya setelah kurang dari dua tahun tinggal di rumah.

Tepat, Gandhi tiba di Afrika Selatan dengan kebingunggan. Tidak ada pekerjaan administrasi yang menunggunya, tetapi lebih ke posisi tenaga ahli pembukuan yang dapat menguraikan transaksi bisnis rumit selama bertahun-tahun yang menjadi kasus hukum yang berbelit-belit dan memicu perselisihan. Tidak peduli ke mana pun Gandhi pergi, tampaknya ia selalu ditakdirkan untuk gagal.

Namun tidak kali ini. Ia melakukan pembelajaran yang lama dan sungguh-sungguh atas tantangan di depannya. Ia merasa keberuntungannya sama saja meskipun ia telah melakukan banyak perubahan pada lingkungannya. Satu hal yang tetap, menurut pengamatannya, adalah dirinya sendiri. Jika ia dapat mengubah posisinya, lokasinya, situasinya—mengapa ia tidak dapat mengubah dirinya? Itu adalah pemikiran yang revolusioner bagi pramuniaga yang sedang mencoba bertahan hidup. Apa yang tidak disadarinya adalah ternyata pemikiran itu juga menjadi sesuatu yang revolusiner bagi bangsanya.

Gandhi mempelajari detail kasus dan pembukuan dengan semangat baru. Ia terkejut mengetahui kompetensinya sendiri dan menjadi terpandang sebagai pengacara yang paling memahami kasus tersebut. Lebih pentingnya lagi, ia mulai mempertanyakan sifat perkara hukum yang antagonis, bahkan menghukum, pertengkaran antarsaudara sedarah yang meningkat menjadi permasalahan besar. Ia menolak keharusan untuk membela kepentingan kliennya saja dan hanya berusaha mencari resolusi—dan khususnya rekonsiliasi—untuk kedua belah pihak. Lalu, ia membujuk kedua pihak untuk menyelesaikannya di luar pengadilan.

Ia menulis; “Saya telah mempelajari praktik hukum yang sebenarnya. Saya telah belajar untuk menemukan isi yang lebih baik dari sifat manusia dan memasuki hati manusia.” Kesadaran ini menjadi akar dari filosofi kehidupan Gandhi. Hal itu mendorongnya untuk meminta diadakannya pertemuan dengan pemimpin  Inggris dan bekerja sama dengan mereka sebagai mitra; untuk menemukan pijakan umum bagi para anggota seluruh kasta, agama, dan nasionalitas; untuk mempertahankan kemerdekaan negaranya dan pada standar yang paling tinggi untuk bangsanya. Usahanya atas hak-hak sipil dan kemerdekaan India dan keyakinannya yang kuat akan cinta dan kedamaian berasal dari pemikiran ini: semua orang dapat bertranformasi, semua orang dapat berubah dari dalam dirinya, semua orang mampu melakukan tindakan yang berarti untuk sesuatu yang baik.

 

sumber : Laura fitzgerald “30 Success Strories…” BIP – Kelompok Gramedia


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: