Oleh: onewords | Mei 12, 2012

Michael Jordan


Kegagalan terbesar pada masa kecilnya mendorongnya menjadi alet yang mendominasi sepanjang masa..

Ketika penonton melihat Michael Jordan bermain, mereka tidak hanya melihat seorang pria yang memberi definisi baru pada pencapaian di bidang atletik saat ini, tetapi juga seorang lawan yang tangguh bagi orang yang menganggap setiap permainan adalah adu tekad. Ketika ia dikenal sebagai pencatat rekor kemenangan yang tidak terduga, kegagalanlah yang memacu Michael untuk mengusahakan yang terbaik: “Saya tahu ketakutan adalah hambatan bagi beberapa orang, tetapi saya hal itu hanyalah ilusi… Kegagalan selalu membuat saya berusaha lebih keras pada kesempatan berikutnya.”

Michael mendapatkan jiwa kompetisi ini secara alamiah. Sebagai seorang anak dari lima bersaudara dalam keluarga yand disiplin dan selalu ingin maju ia dibesarkan dengan standar yang tinggi dan harapan yang lebih besar. Sekali waktu ketika ia bolos sekolah, ibu Michael membawanya ke tempat kerja dan menyuruhnya duduk di mobil untuk belajar sepanjang hari yang diawasi oleh sang ibu dari jendela kantornya. Keluarganya merasa Michael tidak hanya menonjol di sekolah, tetapi juga dalam kegiatan ekstrakurikuler. Kesadaran kalau ia memiliki kemampuan di bidang atletik muncul dalam tim Litter League, ia dikenal dapat melempar bola dengan baik. Namun keahliannya dalam basket hanyalah mimpi; dengan tinggi 172 cm, ia terlalu pendek untuk berlaga di lapangan.

Ia begitu menyukai permainan tersebut, dan semangat serta keinginannya untuk berkompetisi dipacu oleh persaingannya dengan kakaknya Larry. Mereka berdua berhadapan dalam pertandingan seru satu lawan satu di halaman belakang setiap hari, dan biasanya Larry selalu mendominasi adiknya. Sebenarnya, Larry dianggap sebagai atlet sejati dalam keluarga oleh saudara-saudaranya dan pelatih SMA-nya, mereka berspekulasi bahwa Michael mungkin akan dikenal sebagai “Saudara Larry” jika Larry tumbuh lebih tinggi dari 170 cm. Michael tidak suka dikalahkan—oleh kakaknya ataupun orang lain—dan teman serta keluarga ingat bahwa ia akan terus menantang mereka dalam permainan Horse sampai ia menang. Ia mengakui utang budinya pada kakaknya: “Ketika Anda melihat saya bermain, Anda melihat Larry bermain.”

Pelatih SMA mengenal Michael melalui Larry dan mengundang Michael ke perkemahan basket musim panas sebelum ia masuk SMA. Ia, bersama dengan salah satu sahabatnya, diminta untuk mencoba masuk tim regu universitas. Michael membuat setiap orang di perkemahan tersebut kagum oleh kecepatan dan ketangkasannya, tetapi pelatih khawatir Michael tidak akan mencapai batas minimal tinggi badan dan berpikir mungkin akan baik baginya untuk bermain di tim regu universitas junior selama setahun untuk mendapatkan lebih banyak waktu latihan. Ketika daftar nama regu universitas akhirnya diumumkan, teman Michael—semuanya memiliki tinggi badan 198 cm—ada dalam daftar, tetapi nama Michael tidak ada.

Itu adalah saat yang sangat membekas dalam hidup Michael. Ia memandang daftar nama yang disusun secara alfabet itu, membaca kembali daftar J berkali-kali, yakin bahwa pelatihnya telah membuat kesalahan. Ia kemudiaan mengaku ketika pulang ke rumah, ia menangis hari itu karena sangat kecewa dan malu. Untungnya, Ibunya menemaninya dan memberikan beberapa nasihat penting. “Ia mengatakan hal terbaik yang dapat kulakukan adalah membuktikan pada pelatih bahwa ia salah,” kata Michael. “Dan saya mulai memperbaiki permainan saya setelah dikecewakan.”

Michael denga enggan bergabung dengan skuadron tim universitas junior. Namun saat ia dikenal sebagai pemain yang berdedikasi, ia mengubah intensitas latihannya. Guru olahraga Michael, Ruby Sutton, yang melihat perubahan itu pertama kali: “Biasanya saya tiba di sekolah antara jam 07.00 dan 07.30. Michael sudah ada di sekolah sebelum saya tiba. Setiap kali saya masuk dan membuka pintu, saya mendengar suara bola basket. Musim gugur musim salju, ataupun musim panas. Hampir setiap pagi saya harus mengeluarkan Michael dari lapangan.” Karena tingginyalah sehingga ia tidak bisa masuk tim universitas, Michael bahkan mencoba bergelantung di palang agar lebih tinggi.

Meskipun tidak memiliki tinggi badan 183 cm, Michael dengan cepat menjadi pemain favorit tim universitas junior. Kecepatan dan ketangkasannya tidak bisa dibandingkan dengan teman-teman satu timnya. Tidka lama kemudian, tim universitas mulai datang lebih awal ke pertandingan hanya untuk melihat Michael memimpin JV (tim universitas junior), mengumpulkan angka 25 dan kadang-kadang 40 dalam satu permainan. JV berkembang sebagai tim karena Michael menuntut intensitas yang sama dari teman-teman satu timnya seperti yang dilakukannya pada dirinya sendiri, membujuk pelatihnya untuk mendorong tim berlatih lebih keras di bawah kritikannya. Di penghujung hari, asisten pelatihnya, Fred Lynch berkata, Michael adalah “Pecundang yang sakit hati… Apa yang selalu diinginkannya adalah setiap orang harus bermain sekeras dirinya.”

Pada awal tahun pertama, tinggi Michael bertambah 10 cm. Tangannya yang besar memudahkannya menangkap dan memegang bola dengan lebih baik, dan sekarang ia dapat memasukkan bola ke dalam ring. Pelatihnya sangat gembira dengan tinggi tubuhnya sekarang, dan mereka tidak bisa lagi mengabaikan talentanya. Ketika ia akhirnya dimasukkan dalam tim universitas, ia membawa sesuatu yang akan menginspirasi setiap pelatih, teman satu tim, dan fans selama karienya: Anda bisa mendapatkan tingkat keahlian yang tidak ada bandingnya dengan semangat dan komitmen yang tidak ada bandingnya.

Dan di balik keahlian dan semangat Michael Jordan terletak rahasiahnya: selalu menghargai kegagalan dan memanfaatkan hal itu untuk kebaikannya. Bertahun-tahun kemudian, Michael memotivasi dirinya dengan melihat kembali pada kegagalan tersebut: “Kapan pun saya berhasil dan merasakan lelah serta berpikir untuk berhenti, saya menutup mata dan menatap daftar yang tidak mencantumkan nama saya di ruang penyimpanan barang, dan biasanya cara itu membuat saya kembali bersemangat. “Pada kenyataannya, untuk seorang pria yang menjadi pemain paling terkenal dan diakui dalam sejarah permainan basket—memenangkan kejuaraan NBA enam kali, piala MPV lima kali, 12 kali permainan All Star, gelar NCAA, dan dua mendali emas Olimpiade—Michael yakin, ia dapat berhasil karena kesediannya untuk gagal. “Saya bersedia menerima kegagalan. Setiap orang pernah gagal. Tetapi saya tidak mau jika tidak mencoba.”

 

sumber : Laura fitzgerald “30 Success Strories…” BIP – Kelompok Gramedia


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: