Oleh: onewords | Mei 11, 2012

James Earl Jones


 

 

 

Suara yang paling dikenal di dunia pernah dibungkam oleh kegagapan yang parah.

Sulit dibayangkan bahwa suara James Earl Jones—suara Darth Vader dan singa Musafa, suara yang menyapa Anda ketika Anda menangkat telepon Verizon atau menonton CNN, suara yang menyimbolkan kekuatan dan kekuasaan—pernah tersiksa oleh kegagapan. Sewaktu masih kecil, James mengalami kegagapan yang kemudian membuatnya tidak mampu mengungkapkan dirinya sendiri. Ketika anak lain mengejeknya saat ia berdiri untuk membacakan kutipan dari Alkitab di gereja, ia tidak mau lagi pergi ke gereja. Ia langsung tidak mau bicara sama sekali. “Aku pikir, jika aku tidak bisa mengatakannya, aku tidak akan mempermalukan diri sendiri,” kenang James. “Maka saya tidak bicara.”

Masalah tersebut muncul dari trauma masa kecil. James adalah anak tunggal hasil perkawinan singkat dan tidak bahagia. Ibunya adalah seorang pembantu dan penjahit sedangkan ayahnya seorang aktor laga. Ayah James  meninggalkan keluarga itu segera setelah kelahirannya, dan Depresi Ekonomi  membuat pekerjaan sulit di dapat, ibu James menitipkan anaknya pada kakek-neneknya untuk diasuh.

Ketika James, seorang anak yang cerdas, mencapai usia sekolah, kakek-neneknya memutuskan untuk pindah ke Michigan untuk mencari pendidikan yang lebih baik dengan diskriminasi yang lebih kecil. Tanpa memberitahukan James atas rencana tersebut, mereka meninggalkan James di rumah seorang kerabat dan pergi ke Michigan, bermaksud mengirimnya segera setelah mereka menetap di peternakan mereka yang baru. Mungkin karena ingatannya yang masih segar bahwa orangtuannya meninggalkan ia sebelumnya, James menyimpulkan bahwa ia telah ditelantarkan. Meskipun ia diberangkatkan dengan kereta api untuk berkumpul kembali dengan kakek-neneknya, James sudah trauma. Segera setelah ia sampai di Michigan, pada usia 5 tahun, keluarganya baru tahu kalau ia menderita gagap.

James menjadi pendiam, tidak bicara di depan umum tetapi berbicara panjang lebar dengan ternak-ternaknya, yang tidak dapat bicara. Seperti kakek buyutnya, ia menjadikan buku sebagai pelarian, membaca banyak buku mengenai sastra dan fiksi ilmiah. “Aku menemukan suaraku di dalam buku, dan aku merasa bahwa kosakata yang banyak sangat penting bagi orang yang gagap.” Suara yang baru ditemukannya ini menimbulkan percakapan berjam-jam di kepalanya saat ia kelihatan diam di luar. Namun, masih ada rasa kesepian dan frustasi: “Salah satu hal terberat dalam hidup adalah memiliki kata-kata dalam kepala, tetapi tidak dapat Anda ungkapan.”

Pada waktu ia masuk SMA di daerahnya, James dikenal sebagai murid yang pandai meskipun sangat pendiam. Ia memperoleh nilai yang bagus, senang bermain basket dan lari. Ia juga mendapat nilai yang bagus di bidang sains. Ia sangat berminat pada pelajaran bahasa Inggris dan guru bahasa Inggrisnya, Donald Crouch, pensiunan profesor yang mengajarkan semua sastra klasik. James secara khusus tertarik pada The Song of Hiawatha karangan Henry Wadsworth Longfellow, karena hal itu terinspirasi dari suku Indian lokal Chippewa. Ketika diminta untuk mengumpulkan tugas tertulis di kelas, James tertantang untuk memahami bahasa ritmis Longfellow dan menulis puisinya sendir, “Ode to a Grapefruit”.

Donald Crouch selalu curiga adanya talenta besar di balik penampilan diam James, dan puisi itu memberinya kesempatan untuk menguji hal itu. Crouch menuduh James menjiplak puisi tersebut dan bersikeras agar James mengungkapkannya di depan kelas untuk membuktikan kalau ia memang benar penulisnya. James berdiri di depan kelas dan mengucapkan puisi tersebut baris demi baris—dan sama sekali tidak gagap. Baik murid maupun guru terkejut dengan hal itu; tampaknya bicara di depan orang banyak adalah obat rahasia dari kegagapannya.

Terpikat dengan suara barunya sendiri, James mulai menggunakannya kapan pun ia bisa. Ia bergabung dengan tim debat. Ia menjadi mengurus kelas dan editor buku tahunan. Ia membaca puisi di hadapan seluruh sekolah, mengutip Edgar Allan Poe dengan menggunakan cahaya lilin. Ia bahkan memberikan pidato perpisahan sekolah.

Partisipasi James memberinya beasiswa ke University of Michigan—berkat arahan kakek-neneknya, ia bergabung dengan pramahasiswa kedokteran. Namun ia tidak bisa meninggalkan aktivitas yang berbau public speaking. Ia mendaftar di kelas akting untuk terus mengasah kemampuan berbicara dan segera mengganti jurusannya ke drama. Ia memenangkan peran di beberapa drama kampus dan bahkan komunitas teater Ann Arbor, tidak pernah sekalipun mengatakan pada guru atau teman sekelasnya mengenai masalah kegagapannnya. Mereka tidak pernah menduga.

Langkah yang dipilihnya membawanya ke New York, tempat ia berkumpul kembali dengan ayahnya dan mengenalkannya pada pahlawannya, Paul Robeson, seorang aktor Afrika-Amerika yang sangat diperhitungkan dan aktivis yang jujur. James melakukan apa pun yang ia bisa untuk terus mengikuti kelas akting; bekerja sebagai tukang bersih-bersih, membuat sandwich untuk toko roti, dan tinggal di apartemen tanpa pemanas ruangan maupun listrik. Dengan makin banyak pelajaran mengenai akting dan berpidato, James tidak hanya lebih belajar megenai kehidupannya tetapi juga tentang dirinya sendiri. “Karena kebisuan saya, saya memperlakukan bahasa berbeda dengan yang dilakukan kebanyakan aktor. Dalam tahun-tahun  tersebut saya menghabiskan waktu dalam kebisuan visual, saya mengembangkan minat pada ekpresi, ketika saya mendapatkan kekuatan mulai percaya bahwa apa yang valid mengenai sebuah karakter bukanlah kepadaiannya tetapi suara yang dihasilkannya.”

Kebijaksanaan dan pelatihan James akhirnya sempurna pada usia 37 tahun, ketika ia mendapatkan peran pertamanya di Broadway: peran utama di sebuah drama baru, “The Great White Hope”. Dalam perannya sebagai petinju muda yang kurang ajar, James memenangkan Tony Award dan kemudian mencuri perhatian Hollywood juga, memainkan peran yang sama dalam versi film tahun 1970, yang berkat perannya itu ia masuk nominasi dalam Academy Award.

Saat ini, James Earls Jones adalah nama yang dikenal luas, dan khususnya, suara yang dikenal luas. Ia telah dianugerahi dua Tony Award, empat Emmy Award, satu Grammy Award, the National Medal of Arts, dan gelar doktor kehormatan dari Universitas Yale, Princeton, dan Columbia. Ia bahkan pernah berbicara di depan komite kongres sastra untuk membagikan pengakuannya mengenai pentingnya membaca.Secara mengejutkan, ia juga masih gagap, meskipun lebih sedikit dan tidak sejelas ketika ia masih kecil. Namun James sadar bahwa ia berutang pada penyakitnya tersebut. Kekurangannya itu memacunya untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan bahasa dan pemahaman yang lebih dalam akan dirinya sendiri dan karakternya. Lebih penting lagi, hal itu telah memberinya halangan yang harus diatasinya setiap hari, secara terus-menerus menantangnya untuk menemukan arti dan pengetahuan dalam bebannya. Mungkin itulah alasan ia memberi tantangan pada para mahasiswa yang lulus baru-baru ini: “Jadi, marilah bermimpi; marilah berharap dan berdoa; marilah menemukan diri kita yang baru setiap pagi.”

sumber : Laura fitzgerald “30 Success Strories…” BIP – Kelompok Gramedia 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: