Oleh: onewords | November 30, 2010

Bersyukur Saat Kecopetan


Efesus 5:15-21

Matthew Henry, penelaah Alkitab dan penulis buku klasik, Commentary on the Whole Bible, suatu hari mengalami kejadian naas. Beberapa pencopet menyerangnya dan merampas dompetnya. Lalu ia menulis kata-kata berikut di dalam buku hariannya:
“Saya bersyukur karena:
1. saya tidak pernah kecopetan sebelumnya;
2. meskipun mereka mengambil dompet saya, mereka tidak mengambil nyawa saya;
3. meskipun mereka mengambil semua uang di dompet saya, jumlahnya tidak banyak;
4. saya orang yang kecopetan, bukan saya yang mencopet.”

Rasul Paulus mendorong kita untuk mengucap syukur senantiasa dan atas segala sesuatu. Itu berarti kita perlu mengucap syukur di sepanjang hidup kita dan untuk apa saja yang kita alami. Kita bukan hanya mengucap syukur atas berkat rohani dan kehidupan kekal yang Tuhan anugerahkan, melainkan juga atas pemeliharaan-Nya hari demi hari. Bukan hanya atas keadaan baik yang kita alami, melainkan juga atas penderitaan yang diizinkan-Nya terjadi untuk membentuk karakter kita. Dan, bukan hanya atas apa yang terjadi pada kita, melainkan juga atas kemurahan Tuhan pada orang lain.

Ketika keadaan buruk menimpa kita, seperti dialami Matthew Henry, kita mungkin merasa sulit untuk mengucap syukur. Alih-alih menggerutu dan bersungut-sungut, kita dapat belajar melihat sisi cerah dari setiap keadaan, bahkan dari suatu pengalaman buruk. Kita mengucap syukur karena di tengah masalah itu Tuhan justru memberi kita kekuatan untuk menghadapinya dan menggunakan masalah itu demi meneguhkan karakter kita –ARS

Bacaan Setahun :
Yehezkiel 37-39
2 Petrus 2

Nats :
Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita (Efesus 5:20)

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh


Responses

  1. hanya yang menjadi bebban saya adalah dapatkah kita bersyukur jika kita mengalami kesulitan keuangan atau apapun yang datangnya bukan dari luar tetapi dari dalam ( kesalahan kita sendiri) kesalahan dalam pengelolaan atau kesalahan dalam mengambil keputusan atau apapun itu yang bersumber dari sikap kita yang salah. mungkin kita dapt bersyukur jika penyebab apa yang kita alami datang nya dari luar.. bagaimana dengan pertanyaan saya diatas,,,,, syalommm

    • Saya mencoba menjawab apa yang menjadi kesulitan dari sebagian besar dari masalah yang kita hadapi, karena ini juga pernah saya rasakan (kesulitan keuangan). Setiap orang pasti memerlukan sesuatu, tetapi kita harus dapat melihat apakah itu “kebutuhan” atau “keinginan”. Kita butuh alat komuikasi (handphone), jika suatu kebutuhan kita cukup perlu yang “hanya” bisa sms dan telpon, tetapi kalau kita beli yang sudah smartphone, apakah itu masih suatu kebutuhan atau sudah menjadi keinginan.? (kita harus bisa menjawab pertanyaan ini)

      Yang sering menjadi masalah, adalah bagaimana jika kita sudah terbelit (spt kesulitan keuangan), untuk bisa merdeka.

      Menurut pengalaman saya, jalan satu satunya adalah keluar dari zona nyaman (keinginan) dan hanya membeli suatu kebutuhan. Jika kita mempunyai kewajiban (hutang), kita harus segera melunasi dengan cara menjual semuat asset (kekayaan) yang kita miliki, dan jika kewajiban itu masih ada, kita bicarakan cara pembayaran yang bisa diterima oleh kedua belah pihak. Dan yang pasti kita harus mau keluar dari gaya hidup yang “wah” dan terus belajar memperlakan harta yang telah Tuhan percaya kepada kita dengan benar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: