Oleh: onewords | November 14, 2010

Disentil Tuhan


Yunus 1

Dalam acara bincang-bincang kaum dewasa muda, saya diminta menjadi narasumber bersama seorang rekan yang jauh lebih senior dari saya, mewakili komunitas yang melayani orang miskin kota. Rekan saya ini sudah sangat lama melayani anak-anak jalanan secara penuh waktu. Saya pun banyak belajar darinya. Dalam perbincangan, seorang peserta bertanya kepada kami: “Sampai kapan kalian akan tetap setia atau kapan kalian akan berhenti melakukan pelayanan ini?”

Kalau mau jujur, saya tak ingin menghabiskan hidup saya untuk melayani mereka yang terpinggirkan. Pelayanan ini sangat melelahkan; secara fisik dan emosi. Jadi, saya menjawab bahwa saya akan tetap setia di jalur pendidikan anak, tanpa menspesifikasikan bentuk nyata kontribusi saya seperti apa. Berbeda dari saya, rekan senior saya tadi-yakni Benyamin Lumy-dengan tegas menyatakan: “Sampai sekarang saya tidak menemukan alasan untuk berhenti melayani mereka yang terpinggirkan. Pilihan hidup saya mungkin tidak terlihat berkelimpahan, tetapi saya menemukan bahwa dalam segala hal Tuhan mencukupkan. Saya tidak mau seperti Yunus, harus disentil dulu sama Tuhan untuk mau melayani. Daripada capek berlari dari panggilan Tuhan, lebih baik saya setia saja biar tidak perlu disentil. Toh, tidak ada alasan untuk berhenti.”

Banyak orang tahu cerita Yunus, tetapi hanya sedikit yang mau belajar dari kesalahan Yunus. Terlalu banyak “Tarsis” yang hendak kita tuju, dan “Niniwe” yang ingin kita abaikan. Jika kita sedang melayani di suatu bidang-bahkan yang tak dilirik orang-lakukan saja dengan setia. Tuhan ada di sana. Dia menanti orang yang mau berkarya tulus, menjadi utusan yang melakukan kehendak-Nya –SL

Bacaan Setahun :
Ratapan 3-5
Ibrani 10:19-39

Nats :
Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!” (Yesaya 6:8)

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: