Oleh: onewords | September 25, 2008

Tak Ada Kata Istirahat Bagi Lee Kuan Yew


Bapak Singapura Lee Kuan Yew genap berumur 85 tahun pada Selasa kemarin. Tak ada tanda-tanda ia akan istirahat dari pos Menteri Senior yang diembannya sejak 1990 ketika Lee menyerahkan kursi perdana menteri kepada Goh Chok Tong. “Selama saya masih fit dan terjaga, saya akan membantu proses konsolidasi Singapura di masa depan,” tuturnya.

 

Maklumlah, di ,asa kepemimpinan Lee sepanjang tiga dasawarsa, Singapura berkembang dari negara golongan Dunia Ketiga menjadi salah satu negara maju di dunia. Padahal sumber daya manusianya sedikit penduduk dan sumber daya alamnya minim. “Satu-satunya sumber daya alam Singapura adalah rakyatnya dan tekad dalam bekerja,” tuturnya.

 

Meski begitu, Lee mengatakan tak yakin bisa terus bertahan hingga usia 94 tahun. “Rasanya saya tak mungkin bisa menyamai umur ayah saya yang 94 tahun,” tuturnya dalam sebuah wawancara khusus dengan jaringan televisi CNN setelah lolos dari serangan jantung. Lee mengalami masalah jantung pertama kali pada 1996. Usianya saat itu 74 tahun.

 

“Saya beruntung tak seperti orang tua saya,” katanya. “Ada bedah angioplasty sehingga problem (jantung) saya bisa teratasi.” Meski begitu, ia mengaku usia panjang adalah warisan dari orang tuanya. Ayahnya wafat pada usia 94 tahun, adapun ibunya 74 tahun. “Saya tidak akan berhenti melakukan apa yang mesti saya lakukan… setiap hari adalah bonus,” ujar Lee.

 

Salah satu bonus yang diterimanya kemarin adalah keputusan Pengadilan Tinggi Singapura yang memutuskan bahwa majalah Fas Eastern Economic Review bersalah telah memuat artikel yang menghina Lee dan anak sulungnya, Perdana Menteri Lee Hsien Loong. Hakim Woo Bih Li mengatakan pengadilan akan segera menaksir kerugian pemberitaan itu.

 

Adapun majalah yang berbasis di Hongkong itu menolak keputusan pengadilan dan menyatakan banding. Dalam wawancara dengan Newsweek International, Lee mengatakan bahwa bukan urusan pemerintah jika partai-partai oposisi di Singapura menghadapi kesuliyan di Singapura. “Itu bukan urusan kami,” tuturnya.

 

Lee juga meragukan upaya Amerika Serikat dalam menabur benih demokrasi ke seluruh dunia. “Saya kira itu tidak mungkin dilakukan,” ujar politikus senior yang tubuhnya masih tegap itu. “Sebagai Darwinis saya percaya hanya upaya untuk bertahan hidup yang mendorong masyarakat menuju perubahan.”

 

Lee yang gemar berenang dan bersepeda ini menggarisbawahi bahwa masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang memiliki banyak kesempatan untuk mencapai tujuan yang maksimal. “Itulah hal-hal yang jadi tujuan saya,” katanya.

 

Sumber : harian “Koran Tempo, Kamis 25 September 2008”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: