Oleh: onewords | September 5, 2008

Kamu Adalah Special


 

(Max Lucado)


Para Wemmicks adalah orang-orangan yang terbuat dari kayu. Setiap orang-orangan kayu tersebut dipahat oleh seorang tukang kayu yang bernama Eli. Bengkel kayunya terletak di sebuah bukit yang menaungi desa para Wemmicks tersebut. Setiap Wemmick berbeda, baik pribadi maupun bentuknya. Ada yang memiliki hidung yang besar, ada juga yang bermata indah. Ada yang  tinggi dan ada juga yang pendek. Ada yang bertopi, dan yang lain ada yang bermantel. Tetapi mereka semua dibuat oleh pemahat yang sama dan tinggal di desa yang sama.


Dan sepanjang hari, setiap hari, para Wemmicks melakukan hal yang sama. Mereka memberikan tempelan stiker pada sesama mereka. Setiap Wemmicks mempunyai kotak yang berisi gambar tempel yang berbentuk bintang berwarna emas, dan sekotak lagi gambar tempel berbentuk bulat berwarna abu-abu. Sepanjang jalan di seluruh kota tersebut, bisa dilihat bahwa setiap orang saling menempelkan gambar tempel bintang atau bulat satu sama lain.


Wemmicks yang bagus, yang memiliki kayu yang halus dan cat yang rapi, selalu mendapatkan bintang. Tapi apabila Wemmicks memliliki kayu yang kasar permukaannya dan cat yang mengelupas atau cacat, para Wemmicks memberikan mereka tempelan bulat. Mereka yang berbakat mendapatkan bintang. Beberapa yang dapat mengangkat ranting besar melebihi ketinggian kepala mereka, atau mereka yang mampu melompati kotak-kotak yang tinggi. Atau mereka yang mengetahui peribahasa yang bagus-bagus atau mereka yang mampu bernyanyi dengan indah. Setiap orang, memberi mereka bintang.


Beberapa Wemmicks bahkan mempunyai bintang diseluruh tubuh kayu mereka!! Setiap kali mereka mendapat sebuah bintang, mereka merasa sangat hebat sehingga mereka berbuat sesuatu yang lebih hebat lainnya dan mendapatkan bintang lagi.


Yang lainnya, bagaimanapun, memiliki keterbatasan. Mereka mendapat stiker bulat. Punchinello merupakan salah satu diantaranya. Ia mencoba untuk melakukan lompatan tinggi seperti yang lainnya, tapi ia selalu jatuh, berulangkali jatuh. Dan pada saat ia jatuh, semua orang berkumpul di sekitarnya dan memberi stiker bulat. Terkadang, pada saat ia jatuh, ia akan mendapatkan goresan di tubuhnya, sehingga orang-orang akan memberikan dia stiker bulat lebih banyak lagi.


Ia selalu mencoba untuk menjelaskan alasan kenaoa ia selalu jatuh dan mengucapkan kata-kata yang bodoh, dan para Wemmicks akan memberikan dia stiker bulat lebih banyak lagi. Sampai suatu saat, ia mempunyai begitu banyak tanda bulat di seluruh tubuhnya, sampai ia tidak mau untuk pergi keluar rumah. Ia menjadi takut bahwa bisa saja ia akan melakukan sesuatu yang bodoh seperti lupa akan topinya atau berjalan di tempat yang berair, dan orang-orang akan memberikannya stiker bulat lebih banyak lagi.


Pada kenyataannya, ia mempunyai begitu banyak bulatan berwarna abu-abu yang membuat orang lain bisa datang kepadanya dan memberikan dia satu stiker bulat lagi tanpa alasan apapun. “Ia pantas untuk mendapatkan banyak bulatan,” orang-orangan kayu tersebut berkata satu dengan yang lainnya dan mereka setuju akan hal itu. “Ia bukanlah orang-orangan kayu yang bagus.” Setelah beberapa saat kemudian, Punchinello menjadi percaya akan hal tersebut. “Saya bukanlah seorang Wemmicks yang bagus.” Ia berkata kepada dirinya sendiri. Beberapa waktu kemudian, ia bergaul atau berada disekitar Wemmicks lain yang juga memiliki bulatan di tubuh mereka, dan hal itu membuat Punchinello merasa lebih baik.


Suatu hari, ia bertemu dengan seorang Wemmick yang sangat berbeda dari Wemmicks yang lainnya yang pernah ia temui. Wemmicks ini tidak mempunyai satupun bintang atau bulatan yang terte,pel di tubuhnya. Ia hanyalah orang-orang kayu biasa. Namanya Lucia. Bukan karena tidak ada orang yang menempelkan stiker di badannya, melainkan stiker tersebut yang tidak menempel di tubuhnya. Beberapa orang mengagumi Lucia karena ia tidak memiliki satupun bulatan di tubuhnya, sehingga mereka lari mejuju ke arah Lucia dan memberinya sebuah bintang. Tapi kemudian bintang tersebut jatuh. Beberapa kemudian melihatnya dan karena ia tidak memliki bintang, mereka memberinya tanda bulatan. Tapi bulatan tersebutpun tidak menempel di badannya.


“Seperti itulah hal yang saya inginkan,” pikir Punchinello. “Saya tidak menginginkan tanda dati orang lain.” Kemudian ia bertanya kepada Lucia bagaimana ia bisa menjadi seperti itu.


“Itu hal yang tidak sulit.” Balas Lucia. “Setiap hari, saya pergi menemui Eli.”


“Eli?”

“Ya. Eli. Si tukang kayu. Saya duduk bersamanya di tempat kerjanya.”


“Kenapa?”

“Kenapa tidak kamu mencari jawabannya sendiri?! Pergilah ke bukit. Ia ada disana.” Dan setelah berkata demikian, Wemmicks tersebut pun berlalu dan pergi.


“Tapi ia tidak akan mau bertemu dengan saya!!!” Punchinello berteriak. Tapi Lucia tidak mendengarnya. Kemudian Punchinello pun kembali ke rumahnya. Ia duduk di dekat jendela dan melihat keluar, dimana para Wemmicks diluar saling menempelkan bintang dan bulatan satu dengan yang lainnya.


“Ini tidak benar,” ia berkata pada dirinya sendiri. Dan akhirnya ia pun memutuskan untuk pergi menemui Eli. Ia berjalan menuju ke arah puncak bukit dan melangkah menuju suatu toko yang besar. Mata kayunya membersar ketika melihat ukuran dari segala macam barnga yang terdapat disana. Peralatan yang digunakan, sama tinggi dengan dirinya. Dan ia juga harus berjingkat untuk melihat puncak dari bangku kerja. Sebuah palu ada disana dengan panjang yang sama dengan panjang lengannya. Punchinello terjatuh dengan keras. Dan berkata, “Aku tidak akan tinggal disini!” dan kemudian beranjak pergi.


Kemudian ia mendengar namanya disebut.


“Punchinello?” terdengar suara yang berat dan berwibawa.


Punchinello berhenti.


“Punchinello..senangnya bertemu dengan kamu..mari masuk dan biarkan saya melihatmu..”


Punchinello berbalik pelan-pelan dan melihat ke arah pemahat kayu yang berjenggot dan berbadan besar. “Kamu mengetahui namaku?” si Wemmick kecil itu bertanya.


“Tentu saja. Saya yang membuat kamu.”


Eli kemudian berhenti bekerja dan mengambil Punchinello dan meletakkannya di bangku.


“Hemm..,” sang pemahat berkata ketika ia melihat lingkaran berwarna abu-abu. “Sepertinya kamu telah mendapat beberapa tanda yang buruk.”


“Saya sebenarnya tidak bermaksud untuk melakukan hal tersebut, Eli. Saya sudah berusaha dengan sangat.”


“Oh..kamu tidak perlu untuk membela diri dihadapanku, anakku. Saya tidak peduli apa yang para Wemmicks pikirkan tentang dirimu.”


“Kamu tidak berpikir demikian?”


“Tidak, dan kamu pun seharusnya tidak juga berpikir seperti yang mereka pikir akan dirimu. Mereka pikir siapa diri mereka sehingga dengan sesukanya mereka bisa memberikan tanda bintang atau lingkara? Mereka, Wemmicks, sama seperti kamu. Apa yang merka pikir, itu tidak penting, Punchinello. Yang terpenting adalah apa yang Saya pikirkan. Dan saya pikir, kamu sangat berharga.


Punchinello tertawa, “Saya? Berharga? Kenapa? Saya tidak dapat berjalan dengan cepat. Saya tidak bisa melompat. Cat saya mengelupas. Kenapa saya berharga bagimu?”


Eli lalu menatap Punchinello, meletakkan tangannya di bahu kayu yang kecil tersebut, dan berbicara dengan sangat perlahan. “Karena kamu adalah milikku. Karena itulah kamu sangat berharga bagiku”


Punchinello tidak pernah bertatapan dengan seseorang seperti itu sebelumnya, bahkan dengan penciptanya sekalipun. Ia menjadi tidak mampu untuk berkata-kata.


“Setiap harinya, saya selalu menanti kamu untuk datang kepada saya,” Jelas Eli.


“Saya datang kemari karena saya bertemu dengan seseorang yang tidak memiliki tanda sama sekali.”


“Saya tahu. Ia bercerita kepada saya mengenai kamu.”


“Kenapa tidak ada sticker yang menempel di tubuhnya?”


“Karena ia telah memutuskan bahwa apa yang saua pikirkan jauh lebih penting dari pada yang orang lain pikirkan. Gambar tempel tersebut hanya akan tertempel di tubuhmu jika kamu membiarkannya.”


“Apa?”

“Gambar tempel itu hanya akan menempel jika mereka berarti sesuatu buatmu. Semakin kamu percaya akan kasih saya, semakin kamu tidak memperdulikan gambar tempel yang menempel di tubuhmu.”


”Saya masih belum mengerti benar..”


“Kamu akan mengerti, tapi itu semua memerlukan waktu. Kamu mendapat banyak gambar tempel. Untuk sementara, datanglah kepadaku seitap hari dan biarkan saya mengingatkan betapa saya mengasihimu.”


Eli kemudian mengangkat Punchinello kembali dan meletakkannya kembali ke tanah.


“Ingatlah,” Eli berkata ketika Wemmicks tersebut berjalan ke luar. “Kamu sangat berharga karena saya yang menciptakan kamu. Dan saya tidak membuat kesalahan dengan membuatmu.”

Punchinello tetap berjalan, tapi jauh didalam hatinya ia berpikir, “Saya rasa, ia serius dengan apa yang diucapkannya.” Dan ketika ia berpikir demikian, sebuah gambar tempel yang bulat jatuh ke tanah…

Iklan

Responses

  1. blognya menginspirasi…
    just oneword… inspiring 🙂
    keep on writing… GBU!

  2. that’s amazing stories,…. I am like Punchinello…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: