Oleh: onewords | Agustus 27, 2008

Jeritan Hati Korban Konversi Energi


Oleh Soelastri Soekirno

Keputusan Pertamina yang kembali menaikkan harga elpiji membuat berang warga. “Dulu pemerintah nguber-nguber suruh pake ke gas. Begitu pakai gas, eh harganya naik terus. Apa sih mau pemerintah?” tanya Dadang, pensiunan PNS warga Kota Tangerang pada Senin (25/8) dengan kesal.

Tak hanya Dadang dan para konsumen elpiji, yakni ibu rumah tangga dan penjual makanan yang berang. Para agen elpiji pun resah menghadapi sikap pemerintah yang mereka nilai tidak konsekuen melakukan pogram konversi energi dari minyak tanah ke elpiji atau gas.

Di awal pelaksanaan konversi, pelayanan Pertamina belum maksimal banyak isi tabung tak sesuai ukuran, tabung kecil 3 kg banyak yang bocor, dan jumlah Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji sangat terbatas, tetapi harga elpiji terus naik.

”Ini kan mau puasa, masak pemerintah enggak tahu kalau harga kebutuhan pokok sudah naik. Baru saja mau bernafas setelah dada sesak karena harus membayar biaya buku sekolah anak-anak, sekarang malah dihantam kenaikan harga gas,” ujar Nina warga Kelurahan Gondrong, Kecamatan Cipondoh Kota Tangerang.

Seperti Dadang, ia tak habis pikir dengan keputusan itu. ”Mana katanya tiap bulan Pertamina mau menaikkan harga gas,” lanjut Nina.

Beralih 3 kg

Nina kemudian beralih ke tabung gas ukuran 3 kg. ”Tabung biru saya jual buat ditukar tabung kecil saja biar bisa irit lagi,” ujarnya.

Celakanya, seiring kenaikan harga elpiji 12 kg, banyak warga kini beralih membeli tabung gas ukuran 3 kg. Otomatis harga tabung gas 3 kg di Kota Tangerang merangkak naik dari Rp 150.000 menjadi Rp 175.000 per tabung.

Kenaikan harga elpiji hari-hari ini juga menjadi bahan pembicaraan pedagang makanan seperti gorengan, kue pukis dan martabak. Beberapa penjual makanan di gerbang Perumahan Ciledug Indah I Kota Tangerang langsung beralih memakai tabung gas isi 3 kg. ”Baru merasakan enaknya pakai gas, harganya sudah naik lagi,” kata Manum, penjual martabak asal Lebaksiyu, Tegal Jawa Tengah.

Andi, teman Manum yang berjualan kue pukis, putu ayu dan bikang menambahkan, semula pedagang di sana memakai tabung isi 12 kg karena lebih praktis, tidak sering membeli ulang. ”Tetapi gas birunya (maksudnya isi 12 kg) diistirahatkan dulu karena harga gasnya naik terus. Juli lalu sudah naik, sekarang naik lagi,” tutur Andi yang sudah dua tahun berjualan kue pukis.

Repotnya buat pedagang seperti mereka tak mudah ikut-ikutan menaikkan harga. Andi sudah setengah tahun lebih bertahan pada harga jual Rp 700 per kue. Tentu saja kenaikan bahan seperti terigu, mentega, meses, kelapa parut (santan) sudah mengurangi keuntungan, apalagi jika elpiji naik terus. ”Sekarang keuntungan sudah turun sekitar 20 persen, nanti enggak tahu turun berapa lagi,” kata pemuda berusia 20 tahun itu.

Pedagang gorengan dan pemilik warung makan pun bingung menentukan hendak menaikkan harga dagangan. Naik Rp 100 saja, konsumen sudah protes. ”Tahu goreng naik dari Rp 400 menjadi Rp 500 per buah saja pembeli masih minta turun. Bagaimana mau dinaikkan lagi,” kata Gugun, pedagang gorengan di ujung Jalan Haji Mencong Tangerang.

Agen bingung

Kenaikan harga elpiji juga membuat agen gas menjerit memprotes seretnya pasokan elpiji, baik ukuran 12 kilogram maupun ukuran subsidi 3 kilogram. Frekuensi pengisian merosot sehingga merugikan agen. Akibatnya, agen gas memutuskan membiarkan tabung-tabung kosong menumpuk di gudang.

Di agen gas Sinar Abadi di Jalan Buncit Raya, Jakarta Selatan misalnya, saat ini tertumpuk sekitar 700 tabung elpiji 3 kilogram dalam keadaan kosong. Selain itu, sekitar 300 tabung kosong elpiji 12 kilogram juga menumpuk. Kondisi itu mulai terjadi beberapa hari menjelang kenaikan harga elpiji 12 kilogram hingga pascakenaikan harga.

Di bagian belakang tokonya tampak timbunan tabung-tabung gas kosong. Alip menuturkan, belakangan truk pengangkut elpiji hanya bisa satu kali bolak-balik ke Stasiun Pengisian dan Pengangutan Bulk Elpiji Tanjung Priok dalam sehari karena terlalu lama menunggu antrean.

”Kalau elpiji 3 kg sekarang baru dapat tiga hari sekali. Itu pun cuma sepertiga dari kebutuhan. Kalau yang 12 kg sehari truk cuma bisa beroperasi satu rit, biasanya tiga rit sehari, dapatnya pun cuma sekitar 50 persen,” tutur Alip. (SARIE FEBRIANE)

Sumber : Harian Kompas, Rabu 27 Agust. 08

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: