Oleh: onewords | Juni 22, 2011

Berani Berkata Tidak

22 June 2011

Bacaan Setahun :
   Mazmur 40-43

Nats :
Jawab-Nya, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota sekitar ini, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang” (Markus 1:38)

Berani Berkata Tidak

Markus 1:35-39

Sugeng sedang merintis karier sebagai penerjemah. Ia menerima tawaran untuk menerjemahkan buku spiritualisme populer dari sebuah penerbit besar. Ketika menerjemahkan sampelnya, ia sudah merasa kurang nyaman. Namun, ia merasa tawaran itu bisa menjadi batu loncatan bagi kariernya. Ia menerimanya. Akibatnya, selama menerjemahkan ia merasa tersiksa. Dari segi bahasa, buku itu relatif mudah dialihbahasakan. Masalahnya, dari segi isi, buku itu memaparkan pandangan berdasarkan berbagai filsafat dan kepercayaan yang tidak selalu selaras dengan Kitab Suci. Setelah menyelesaikan-nya, ia memetik pelajaran berharga: Seharusnya ia berani untuk berkata tidak.

Bukan hanya tawaran yang meresahkan, tawaran yang baik pun tidak mesti selalu kita iyakan. Perhatikan saja jejak pelayanan Yesus. Saat itu pelayanan-Nya sudah menjadi buah bibir masyarakat; orang banyak mencari-Nya; permintaan pelayanan meningkat tajam. Hari itu, misalnya, pagi-pagi para murid sudah kebingungan mencari Dia yang sedang berwaktu teduh di tempat yang sunyi. “Semua orang mencari Engkau, ” kata mereka. Apakah Yesus memenuhi permintaan itu? Kali ini Dia menggelengkan kepala. Dia memilih pergi ke kota-kota di dekat situ. Mengapa? “Karena untuk itu Aku datang.” Yesus berkata tidak, agar Dia dapat mengerjakan perkara yang Dia prioritaskan.

Tubuh kita hanya satu. Waktu kita terbatas. Tidak mungkin kita meluluskan setiap permintaan. Berarti, kita perlu menimbang dan memilih secara bijaksana. Menolak tawaran negatif sudah pasti. Namun, tak jarang kita juga mesti menyisihkan yang baik, agar dapat mengejar yang terbaik –ARS

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh

Oleh: onewords | Juni 21, 2011

Kekayaan

21 June 2011

Bacaan Setahun :
   Mazmur 36-39

Nats :
Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan (Yesaya 2:11)

Kekayaan

Yesaya 2:6-11

Fortune adalah majalah bisnis di Amerika yang didirikan oleh Henry Luce pada 1930. Majalah ini dikenal oleh masyarakat dunia karena kerap menuliskan daftar orang terkaya di dunia. Dan, daftar tersebut selalu menimbulkan daya tarik tersendiri buat orang banyak. Mungkin karena kekayaan adalah hal yang selalu dicari oleh manusia.

Alkitab sendiri tidak mencatat bahwa kekayaan atau menjadi kaya itu salah. Justru Alkitab mencatat kekayaan sebagai salah satu berkat dari Tuhan (Amsal 10:22). Akan tetapi, apabila kita tidak berhati-hati, kekayaan dapat mengarahkan hati kita kepada kesombongan dan makin menjauh dari Tuhan seperti yang dilakukan oleh bangsa Israel pada zaman Yesaya. Pada saat itu bangsa Israel sedang berada dalam kondisi makmur (ayat 7). Namun, kondisi tersebut tidak membuat mereka bersyukur kepada Tuhan. Mereka malah menjauh dari Tuhan, menyembah berhala, dan menjadi sombong. Allah pun menegur dan menghukum mereka.

Berhati-hati dan waspadalah dengan kekayaan. Prinsip yang mengatakan bahwa “segala sesuatu bisa dilakukan asal ada uang” memang banyak berlaku di mana-mana. Prinsip itulah yang biasanya membuat diri kita merasa mampu melakukan segala sesuatu tanpa pertolongan Tuhan, dan akhirnya membuat kita menjauh dari-Nya dan menjadi sombong takabur. Menjadi kaya bukanlah hal yang keliru. Akan tetapi, kita harus memandang kekayaan sebagai berkat atau pemberian dari Tuhan. Karena hanya dengan cara itulah kita dapat bersyukur kepada Tuhan dan menjaga hati kita untuk tidak sombong –RY

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh

Oleh: onewords | Juni 20, 2011

Jika Tuan Mau

20 June 2011

Bacaan Setahun :
   Mazmur 32-35

Nats :
“Aku mau, jadilah engkau tahir” (Lukas 5:13)

Jika Tuan Mau

Lukas 5:12-16

Penderita kusta pada zaman Yesus sungguh menderita. Ia dikucilkan, juga wajib selalu membawa bel kecil yang ia bunyikan sambil berteriak, “Najis, najis!” agar orang yang berjumpa dengannya jangan sampai menyentuhnya. Jangankan bersentuhan, mengenai bayangannya saja membuat orang lain najis dan harus mentahirkan diri. Sungguh menyedihkan ketika si kusta harus meneriakkan kepada orang lain bahwa dirinya najis hingga orang lain patut menjauhinya. Lebih menyakitkan lagi, jika ia tahu ada sumber pertolongan, tetapi ia tidak diperbolehkan datang dan meminta kesembuhan.

Akan tetapi, si kusta yang satu ini berbeda. Ia nekat menerobos masuk ke kota tempat Yesus berada, karena ia yakin Yesus satu-satunya Pribadi yang mampu mengubah hidupnya. Dengan penuh harap, ia memohon belas kasihan Yesus: “Tuan, jika tuan mau, tuan dapat mentahirkan aku”. Ia yakin Yesus mampu, tetapi ia sadar tidak punya hak apa pun untuk memaksa Yesus memedulikannya, kecuali Dia mau. Ternyata Yesus memang mau. Bahkan, Yesus melakukannya dengan menyentuh tubuh si kusta yang dianggap najis itu.

Anda dan saya sebagai orang berdosa tak lebih dari si kusta yang membutuhkan belas kasihan Allah. Namun, kerap kali kita tidak menanti kemauan Allah terjadi atas hidup kita, tetapi menyodorkan banyak kemauan kita untuk Dia restui. Memaksakan kehendak kita agar menjadi kehendak-Nya. Mari belajar meletakkan diri kita secara benar di hadapan Allah. Kita boleh membawa setiap kebutuhan kita kepada-Nya, tetapi biarlah kehendak-Nya yang jadi atas hidup kita –SST

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh

Oleh: onewords | Juni 19, 2011

Persembahan Yang Hidup

19 June 2011

Bacaan Setahun :
   Mazmur 28-31

Nats :
… aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah … (Roma 12:1)

Persembahan Yang Hidup

Roma 12:1-2

Seekor induk ayam tiba-tiba berkotek-kotek tidak keruan. Ia memanggil anak-anaknya, berputar-putar sambil celingak-celinguk ke sana kemari. Suaranya nyaring, gelagatnya gelisah. Matanya terus-terusan melihat ke langit. Ternyata, seekor elang sedang terbang. Kelihatannya elang itu hendak menyambar anak-anak ayam tersebut. Melihat bahaya yang pasti datang dan mengancam, induk ayam tidak mau ambil risiko. Ia meneriakkan tanda bahaya pada anak-anaknya.

Isi surat Paulus dalam Roma 12 ini bernada seolah-olah ia tengah berteriak-berseru dan mengingatkan jemaat Tuhan untuk waspada. Paulus meminta perhatian jemaat Roma untuk memperhatikan ancaman bagi kehidupan jemaat Tuhan yang berasal dari dunia (ayat 2). Ancaman itu begitu nyata dan jelas, bahkan berbahaya, sehingga Paulus perlu memberikan peringatan dini untuk waspada. Isinya pesannya jelas, yaitu tubuh ini harus digunakan untuk memuliakan Tuhan (ayat 1). Keduniawian bisa begitu menggoda hingga kita mengabaikan pentingnya memberikan tubuh sebagai alat rohani bagi Tuhan dalam dunia ini. Dan, itu bagaikan “elang” yang mengancam kehidupan anak-anak Tuhan.

Sekarang ini, konsep keduniawian seperti itu kerap memengaruhi cara berpikir kita. Kita menjadi orang kristiani yang taat hanya pada hari Minggu. Kita juga menganggap bahwa beribadah hanya pada saat di rumah Tuhan. Kita mengabaikan bahwa kita adalah anak Tuhan kapan pun, di mana pun, dan dalam kondisi apa pun. Paulus mengingatkan supaya kita menjadikan hidup kita sebagai persembahan yang hidup dalam segala aspek hidup dan setiap waktu kita –FZ

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh

Oleh: onewords | Juni 18, 2011

Menyediakan Diri

18 June 2011

Bacaan Setahun :
   Mazmur 24-27

Nats :
Kekasihku kubukakan pintu, tetapi kekasihku sudah pergi, lenyap. Seperti pingsan aku ketika ia menghilang. Kucari dia, tetapi tak kutemui, kupanggil, tetapi tak disahutnya (Kidung Agung 5:6)

Menyediakan Diri

Kidung Agung 5:2-8

Dalam sebuah acara pemakaman, seorang pria setengah baya tampak terguncang dan menangis tanpa henti. Pria ini ternyata adalah suami dari jenazah yang akan segera dikuburkan. Ia sangat bersedih atas kepergian istrinya. Ternyata, lebih dari merasa kehilangan, sang suami merasa menyesal tidak menyediakan diri dan memberikan cukup waktu untuk menikmati kebersamaan dan kebahagiaan bersama istrinya itu ketika masih hidup. Selama ini ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Sekarang semua sudah terlambat. Istrinya sudah pergi.

Perempuan dalam perikop bacaan hari ini juga mengalami penyesalan setelah gagal menyediakan diri untuk kekasihnya. Suatu malam ketika ia sedang tertidur lelap, sang kekasih datang dengan tergopoh-gopoh. Akan tetapi, ia merasa malas dan berat untuk beranjak dari tempat tidurnya. Ia tak mau repot mengenakan baju serta mengotori kakinya yang telah terbasuh (ayat 3). Sementara itu si kekasih terus menanti dan bahkan sempat berusaha membuka pintu sendiri (ayat 4). Ketika akhirnya si perempuan berhasil mendorong dirinya untuk bangkit dan membukakan pintu, ternyata si kekasih sudah pergi. Si perempuan sangat menyesal, bahkan sampai mencari kekasihnya ke mana-mana, tetapi sudah hilang entah ke mana (ayat 6).

Siapa saja orang-orang yang kita kasihi dan berharga bagi kita? Sudahkah kita memberikan cukup waktu untuk mereka? Jangan sampai kita terlalu sibuk atau malas sehingga tidak bisa menyediakan diri untuk mereka. Prioritaskan pula mereka di hidup kita. Sebelum habis kesempatan untuk melakukannya dan kita hanya bisa menyesal –ALS

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh

Oleh: onewords | Juni 17, 2011

Anak Panah Nyasar

17 June 2011

Bacaan Setahun :
Mazmur 20-23

Nats :
Tuhan menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; tetapi rencana Tuhan tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun (Mazmur 33:10,11)

Anak Panah Nyasar

2 Tawarikh 18:28-34

Di sebuah laga sepak bola terjadi keunikan ini. Bola digiring mendekati gawang, diumpankan ke posisi tembak yang strategis. Umpan disambut tendangan keras, tetapi membentur tiang gawang. Bola terpental, jatuh di kaki penyerang lain; ditendang lagi tak kalah keras. Kali ini bola membentur mistar gawang; terpental lagi. Untuk ketiga kalinya bola berusaha disarangkan ke gawang, tetapi malah melambung dan keluar lapangan. Orang bilang, “Itulah kalau belum saatnya gol.”

Raja Ahab licik dan jahat. Dalam pertempuran melawan Aram, ia membujuk Raja Yosafat menjalin aliansi militer dengannya. Bahkan, ia “mengumpankan” besannya itu sebagai sasaran musuh. Ia menyamar sebagai prajurit agar musuh menyangka Yosafat adalah dirinya, supaya Yosafat menjadi target. Taktik licik ini nyaris berhasil (ayat 31). Namun, Tuhan menyelamatkan Yosafat. Sebaliknya, meski Ahab menyamar, sebatang anak panah yang sembarang ditembakkan “menyasar” tepat di celah baju zirah-nya (ayat 33). Ia terluka dan mati. “Sudah waktunya” Ahab binasa, sementara “belum waktunya” Yosafat wafat. Sebab, bukan kematian Yosafat, melainkan Ahab, yang dikehendaki Tuhan.

Entah baik atau jahat, manusia hanya bisa berencana. Tuhan yang menentukan. Sadar atau tidak, ada kalanya hidup kita tertindih oleh rencana jahat pihak lain. Atasan yang sengaja menekan; rekan sejawat yang berniat menyingkirkan; kenalan yang merasa tersaingi lalu bersiasat licik; rekanan bisnis yang berniat merugikan. Pokoknya semua tindakan yang membahayakan Anda. Namun, tak ada yang akan membawa hasil, jika Dia tidak berkehendak. Percayalah, tiada rencana yang bakal terjadi jika Tuhan tidak berkenan –PAD

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh

Oleh: onewords | Juni 16, 2011

Latihan Ganda

16 June 2011

Bacaan Setahun :
   Mazmur 16-19

Nats :
Latihan jasmani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang (1 Timotius 4:8)

Latihan Ganda

1 Timotius 4:6-10

Untuk menurunkan berat badan dan menjaga kebugaran, orang biasanya memadukan dua latihan. Latihan pasif: menahan diri dengan mengikuti pola makan tertentu. Latihan aktif: berolahraga untuk membakar kalori dan lemak yang berlebihan.

Begitu juga dengan ibadah atau disiplin rohani. Ada yang aktif, yaitu disiplin keterlibatan, sesuatu yang kita lakukan; dan ada yang pasif, yaitu disiplin berpantang, sesuatu yang kita hindari. Ini berkaitan dengan jenis dosa yang kita hadapi. Ada dosa pelanggaran, yaitu secara aktif melanggar perintah Tuhan (1 Yohanes 3:4). Ada dosa pengabaian, yaitu secara pasif melalaikan perbuatan baik yang semestinya kita lakukan (Yakobus 4:17).

Bagaimana disiplin rohani itu dapat bermanfaat bagi kita? Secara umum, menurut John Ortberg, ketika kita bergumul dengan suatu dosa pengabaian, kita akan tertolong melalui disiplin keterlibatan. Sebaliknya, ketika kita bergumul dengan suatu dosa perbuatan, kita akan tertolong melalui disiplin berpantang. Sebagai contoh, jika kita cenderung murung, kita akan tertolong dengan berlatih merayakan kehidupan ini. Apabila kita bergumul melawan keserakahan, kita akan tertolong dengan berlatih memberi. Sebaliknya, jika kita rentan bergosip, kita akan tertolong dengan berlatih menutup mulut. Apabila kita suka melebih-lebihkan sesuatu, kita akan tertolong dengan berlatih berbicara secara jujur.

Disiplin rohani tidak lain ialah sarana untuk mencapai tujuan. Tujuannya: kehidupan rohani yang sehat sehingga kita menjadi bugar; baik dalam hidup yang sekarang maupun dalam hidup yang akan datang –ARS

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh

Oleh: onewords | Juni 15, 2011

Butuh Dua Orang

15 June 2011

Bacaan Setahun :
   Mazmur 12-15

Nats :
Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat (Kejadian 13:8)

Butuh Dua Orang

Kejadian 13:1-9

Selalu dibutuhkan dua orang untuk bertengkar”, demikian kata sebuah pepatah lama. Benar, ketika ada dua pihak yang sama-sama berniat memperebutkan “kemenangan pribadi”, maka pertengkaran pun “sukses” diciptakan. Padahal, jika salah seorang mau menyadarkan dirinya untuk berhenti memusatkan perhatian pada masalah dan mengarah pada pencarian solusi, maka pertengkaran takkan berpanjang umur. Sebuah fakta yang kerap “tertutupi” saat dua orang terlibat adu argumentasi atau perselisihan.

Para gembala ternak Abraham dan Lot juga pernah bertengkar dan berkelahi karena ladang dan air untuk menggembala tidak cukup bagi mereka (ayat 6, 7). Maka, masalah itu diteruskan kepada Lot dan Abraham. Sangat wajar jika kemudian mereka “meneruskan” pertengkaran tersebut, sebab masing-masing bisa merasa punya hak yang patut dipertahankan. Syukurlah, Abraham mampu mengendalikan dirinya dan melihat bahwa kekerabatannya dengan Lot-lah yang harus dipertahankan (ayat 8). Itu sebabnya ia memilih untuk segera menghentikan pertengkaran dengan cara mengalah.

Kita belajar dari Abraham bahwa saat hamba-hambanya bertengkar, Abraham tak berpikir pesimis, “Ah, mungkin hubunganku dengan Lot harus berakhir di sini.” Sebaliknya, ia melihat bahwa Lot tetaplah kerabatnya sampai kapan pun. Itu sebabnya ia menujukan pikirannya pada “apa yang bisa dilakukan supaya hubungannya dengan Lot tak sampai terputus”. Maka, keputusan dan tindakannya bukan lagi didasarkan pada emosi sesaat, melainkan pada kebijaksanaan yang bermanfaat. Kiranya Tuhan memberi kita hikmat seperti ini, ketika sebuah pertengkaran diperhadapkan pada kita –AW

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh

Oleh: onewords | Juni 15, 2011

Segenap Hati

Segenap Hati

Baca Alkitab di : Kolose 3:18-25

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu…” (Kolose 3:23)

Sebagai seorang anak, kita pasti punya segudang kegiatan, benar tidak? Pagi-pagi sudah bangun, terus beresin tempat tidur. Abis itu langsung mandi dan siap-siap ke sekolah. Di sekolah, kita harus belajar dengan baik terus waktu pulang sekolah ada yang harus les atau mengerjakan PR dulu. 

Nah, bagaimana sikap kita saat melakukan semua tugas-tugas itu? Apa kita sudah melakukan semua tugas kita dengan sepenuh hati atau dengan setengah-setengah? 

Kalau kita melihat melihat tugas-tugas yang kita kerjakan sebagai sesuatu yang kita lakukan untuk Tuhan, maka kita akan melakukannya dengan segenap hati, tanpa mengomel dan denan bersukacita. Sesuatu yang kita kerjakan dengan sepenuh hati, pasti akan diberkati oleh Tuhan! Jadi Sahabat Little Eagle, mau kan melakukan segala sesuatu dengan segenap hati? (WI)

Doa : Tuhan ajarku untuk melakukan segala sesuatu dengan segenap hatiku, amin

Sumber : Renungan Harian Anak “Little Eagle” (Disiapkan Untuk Terbang Tinggi)

Oleh: onewords | Juni 14, 2011

Iman Yang Besar

14 June 2011

Bacaan Setahun :
   Mazmur 8-11

Nats :
Iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai sekalipun di antara orang Israel! (Lukas 7:9)

Iman Yang Besar

Lukas 7:1-10

Dapatkah Anda membayangkan bagaimana rasanya dikagumi oleh orang besar, misalnya seorang presiden? Wah, tentu kita merasa sangat tersanjung! Lalu, bagaimana jika Allah Sang Putra Yesus Kristus mengagumi manusia? Rasanya belum pernah terdengar, bukan?

Perhatikan kisah ini. Ada perwira Romawi yang menjadi penguasa di Kapernaum. Ia baik hati, suka berderma, dan memperhatikan kesejahteraan rakyat yang dijajahnya. Sekalipun menurut orang Yahudi ia dianggap kafir, ia bermurah hati membangun rumah ibadah Yahudi. Ketika pembantunya sakit keras, ia sangat gelisah. Padahal, pembantu pada zaman itu identik dengan budak dan biasanya bukan warga Romawi. Diutusnya para pemuka Yahudi untuk memohon pertolongan Yesus hingga mereka pun memaksa Yesus menolong si perwira, sebab ia penguasa yang berjasa.

Perwira ini menyadari ketidaklayakannya. Karena itu, ia yakin bahwa jika Yesus mau menyembuhkan, Dia tak perlu datang ke rumahnya. Sebab, dari jauh Yesus bisa memerintahkan kuasa-Nya untuk menyembuhkan (ayat 6-8). Mungkinkah perwira ini meyakini bahwa Yesus adalah Mesias, penguasa surga yang sedang melawat dunia? Ketika umat Israel masih memperdebatkan apakah Yesus utusan Allah atau penyesat, perwira ini membuat Yesus tercengang. Yang dianggap kafir justru memiliki iman yang jauh lebih besar daripada orang yang menganggap dirinya umat pilihan Allah.

Milikilah iman sang perwira. Ia merendahkan diri, menyadari ketidaklayakannya di hadapan Yesus. Namun, ia sangat meyakini ketuhanan dan kebesaran Yesus. Ia mempercayai Yesus dengan sepenuh hatinya. Tuhan senang melihat iman seperti ini –SST

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.