Oleh: onewords | Juni 14, 2011

Iman Yang Besar

14 June 2011

Bacaan Setahun :
   Mazmur 8-11

Nats :
Iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai sekalipun di antara orang Israel! (Lukas 7:9)

Iman Yang Besar

Lukas 7:1-10

Dapatkah Anda membayangkan bagaimana rasanya dikagumi oleh orang besar, misalnya seorang presiden? Wah, tentu kita merasa sangat tersanjung! Lalu, bagaimana jika Allah Sang Putra Yesus Kristus mengagumi manusia? Rasanya belum pernah terdengar, bukan?

Perhatikan kisah ini. Ada perwira Romawi yang menjadi penguasa di Kapernaum. Ia baik hati, suka berderma, dan memperhatikan kesejahteraan rakyat yang dijajahnya. Sekalipun menurut orang Yahudi ia dianggap kafir, ia bermurah hati membangun rumah ibadah Yahudi. Ketika pembantunya sakit keras, ia sangat gelisah. Padahal, pembantu pada zaman itu identik dengan budak dan biasanya bukan warga Romawi. Diutusnya para pemuka Yahudi untuk memohon pertolongan Yesus hingga mereka pun memaksa Yesus menolong si perwira, sebab ia penguasa yang berjasa.

Perwira ini menyadari ketidaklayakannya. Karena itu, ia yakin bahwa jika Yesus mau menyembuhkan, Dia tak perlu datang ke rumahnya. Sebab, dari jauh Yesus bisa memerintahkan kuasa-Nya untuk menyembuhkan (ayat 6-8). Mungkinkah perwira ini meyakini bahwa Yesus adalah Mesias, penguasa surga yang sedang melawat dunia? Ketika umat Israel masih memperdebatkan apakah Yesus utusan Allah atau penyesat, perwira ini membuat Yesus tercengang. Yang dianggap kafir justru memiliki iman yang jauh lebih besar daripada orang yang menganggap dirinya umat pilihan Allah.

Milikilah iman sang perwira. Ia merendahkan diri, menyadari ketidaklayakannya di hadapan Yesus. Namun, ia sangat meyakini ketuhanan dan kebesaran Yesus. Ia mempercayai Yesus dengan sepenuh hatinya. Tuhan senang melihat iman seperti ini –SST

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh

Oleh: onewords | Juni 13, 2011

Sekolah Padang Gurun

13 June 2011

Bacaan Setahun :
   Mazmur 4-7

Nats :
… anggaplah sebagai kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan (Yakobus 1:2,3)

Sekolah Padang Gurun

Keluaran 2:10-15; 3:1-4

Eric Wilson, seorang dosen, ingin hidup lebih bahagia. Berbagai cara dicobanya. Ia membaca berbagai buku, mencoba banyak tersenyum, mengucapkan kata-kata positif, dan menonton film komedi. Semuanya tidak menolong. Akhirnya, ia mengarang buku berjudul Against Happiness (Melawan Kebahagiaan). Menurutnya, kebahagiaan tidak bisa dikejar atau dibuat. Ia akan muncul sendiri setelah kita berhasil menghadapi persoalan sulit, ketidakpuasan, bahkan penderitaan. Jadi, jalan untuk mencapai kebahagiaan ialah harus melalui kesulitan!

Musa menghabiskan masa mudanya di istana Firaun. Hidupnya nyaman, tetapi tidak bahagia. Suatu saat, datanglah jalan yang sulit. Setelah membunuh seorang Mesir, Musa ketakutan lalu melarikan diri ke padang gurun. Hidupnya berubah drastis. Dulu serbaada, kini serba tidak punya. Anak raja Mesir itu kini hanyalah seorang pendatang di gurun Midian. Namun, di padang gurun itu justru Musa belajar banyak tentang kesendirian; tentang kerasnya kehidupan gurun; tentang susahnya menghadapi orang sulit. Tanpa sadar, Tuhan menempatkan dan menempanya di sekolah padang gurun itu untuk mempersiapkannya menjadi pemimpin umat. Musa akhirnya berjumpa Tuhan dan menemukan kebahagiaan ketika menjalani panggilannya.

Kebahagiaan muncul ketika kita berjuang, lalu berhasil. Oleh sebab itu, jangan menggerutu jika Anda sedang ditempa oleh Tuhan dengan melewati “sekolah padang gurun”. Berjuanglah. Syukurilah tiap pengalaman hidup yang sulit. Belajarlah sesuatu dari sana dengan terus meyakini bahwa setelah “lulus” nanti, kebahagiaan menanti! –JTI

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh

Oleh: onewords | Juni 12, 2011

Dimeterai

12 June 2011

Bacaan Setahun :
Ayub 41-42
Mazmur 1-3

Nats :
… di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus … (Efesus 1:13)

Dimeterai

Efesus 1:13-19

Meterai adalah sebuah tanda yang menunjukkan kepemilikan yang sah. Bahwa segala sesuatu yang dimeterai merupakan milik sah dari sang pemberi meterai. Tidak ada pihak lain yang berhak merebut dan memilikinya. Dan, sejak meterai itu diberikan, maka sang empunya berhak, sekaligus bertanggung jawab, atas apa yang dimilikinya itu.

Ketika kita sungguh-sungguh menyatakan percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya Penyelamat jiwa kita, maka Tuhan memeteraikan kita dengan Roh Kudus (ayat 13). Dengan meterai ini, kita “ditandai” sebagai milik sah Yesus Kristus, yang berhak atas segala hal yang disediakan Tuhan bagi kita (ayat 14). Juga yang akan menerima pimpinan Roh untuk makin mengenal Tuhan dengan benar (ayat 17). Bahkan diizinkan untuk melihat dan mengalami betapa hebat kuasa-Nya (ayat 19)!

Benar, oleh meterai Roh Kudus posisi kita sudah pasti kita adalah anak Allah! (Roma 8:16). Oleh meterai Roh Kudus, Dia tidak membiarkan seorang pun merebut kita dari tangan-Nya (Yohanes 10:28). Oleh meterai Roh Kudus, Tuhan memberi kita kekuatan untuk tahu membedakan yang baik dan yang jahat agar kita hidup senantiasa menyenangkan Dia (Galatia 5:16). Oleh meterai Roh Kudus, Tuhan menolong kita dalam kelemahan (Roma 8:26). Oleh meterai Roh Kudus, kita diberi Penghibur dan Pengajar yang sejati (Yohanes 14:26).

Begitu indahnya hidup yang dimeterai oleh Allah! Punya tujuan pasti, disertai di sepanjang perjalanan, dan berujung pada akhir yang mulia bersama-Nya. Maka, yakinilah kepemilikan-Nya. Harapkan semua yang dijanjikan-Nya. Hiduplah sesuai kemauan-Nya –AW

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh

Oleh: onewords | Juni 11, 2011

Rehat Dalam Kesibukan

11 June 2011

Bacaan Setahun :
   Ayub 38-40

Nats :
Enam harilah lamanya engkau bekerja, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah engkau berhenti, dan dalam musim membajak dan musim menuai haruslah engkau memelihara hari perhentian juga (Keluaran 34:21)

Rehat Dalam Kesibukan

Keluaran 34:21-28

Ada minggu-minggu normal, ada minggu-minggu sibuk. Pelajar dan mahasiswa giat belajar pada waktu ujian. Pedagang laris manis menjelang Lebaran atau Natal. Pegawai bank banyak lembur ketika tutup buku. Saat itu jadwal tumpah padat, orang bekerja ekstra keras, akibatnya tidak sedikit yang mengabaikan kebutuhan untuk rehat secukupnya. Bukan hanya waktu rehat pribadi yang berkurang, kesempatan menikmati hari Sabat Tuhan juga dinomorduakan.

Bangsa Israel hidup dalam budaya pertanian. Mereka pun mengenal musim normal dan musim sibuk. Masa yang paling sibuk tentu saja musim membajak dan musim menuai. Pada musim membajak, mereka harus memanfaatkan cuaca yang baik agar dapat menabur pada waktunya. Musim menuai paling ditunggu-tunggu, mendatangkan sukacita, tetapi sekaligus masa bekerja keras. Apabila melewatkannya, berarti tuaian rusak dan sia-sialah jerih payah mereka. Namun, firman Tuhan memerintahkan mereka untuk tetap memelihara hari Sabat, bahkan dalam musim membajak dan musim menuai! Mereka didorong untuk lebih mengutamakan persekutuan dengan Tuhan daripada kesibukan kerja ataupun sukacita karena tuaian yang melimpah.

Pada masa normal, kita perlu rehat secara cukup dan teratur. Terlebih lagi pada masa sibuk! Bukan hanya rehat jasmani, melainkan juga terutama rehat rohani: menyediakan waktu untuk bersekutu dengan Tuhan. Dengan itu, kita menyadari kita tidak makan dari roti saja, tetapi juga dari firman-Nya. Kita menemukan Tuhan sebagai sumber kekuatan dan kreativitas dalam berkarya. Rehat pun menjadi rekreasi: masa pemulihan tenaga dan penyegaran jiwa –ARS

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh

Oleh: onewords | Juni 10, 2011

Tak Akan Berkekurangan

10 June 2011

Bacaan Setahun :
   Ayub 35-37

Nats :
Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan … (Amsal 28:27)

Tak Akan Berkekurangan

1 Raja-raja 17:8-16

Sekitar tahun 1964, perekonomian Indonesia mengalami keterpurukan. Meski demikian, sepasang suami istri masih mengulurkan tangan untuk menolong orang yang lebih tak berpunya. Di rumah kontrakan mereka yang sangat sederhana, mereka masih menampung sebuah keluarga untuk sama-sama tinggal di situ. Sampai-sampai, mereka sendiri harus tidur berdesakan dengan sepuluh anak mereka dalam sebuah kamar. Namun, Tuhan memelihara mereka. Dan kini, setelah berpuluh tahun kemudian, anak-anak mereka memiliki kehidupan ekonomi yang jauh lebih baik.

Pada zaman Elia, Tuhan bertitah tidak akan menurunkan hujan ke tanah Israel selama 3 tahun 6 bulan. Air di sungai pun menjadi kering. Tak heran, si janda Sarfat hanya memiliki sedikit tepung dan minyak untuk ia dan anaknya. Namun, karena ketaatannya kepada Tuhan dengan memberikan makanan bagi Elia, sang nabi, Tuhan memelihara hidup sang janda dan anaknya selama masa kekeringan.

Kita terkadang berpikir bahwa kita mesti menjadi kaya lebih dulu untuk dapat menolong orang lain. Namun, banyak orang sulit merasa dirinya cukup sehingga ia dapat menolong orang lain, sebab pada dasarnya manusia selalu merasa tidak puas dan berkekurangan. Sebaliknya, hati yang mau memberi dan menolong orang lain sesungguhnya tidak pernah bergantung dari berapa banyak yang dimiliki. Sebab tindakan ini lahir dari hati yang mau taat dan mengasihi Tuhan. Dan jangan khawatir, Tuhan akan memelihara orang-orang yang mengasihi Tuhan sedemikian dalam sehingga kita tak akan berkekurangan –VT

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh

Oleh: onewords | Juni 9, 2011

Harta Tak Ternilai

09 June 2011

Bacaan Setahun :
Ayub 32-34

Nats :
Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang (Mazmur 37:6)

Harta Tak Ternilai

Mazmur 37:1-24

Kenalan dekat saya, seorang pengusaha sukses, merintis usaha baru, yakni persewaan alat berat pertambangan. Ia begitu menggebu dengan usaha baru ini sebab di situ ia bagai mendulang emas. Akibatnya, yang lama jadi tak terurus. Sayang, beberapa waktu kemudian banyak tagihan tak dibayar, bahkan seluruh alat beratnya ditelan mitra bisnis. Meski menang perkara, tetapi surat keputusan hakim tak punya kekuatan menghadapi preman. Ia pun frustrasi, menyesal, marah.

Saya mengingatkannya akan masa kecilnya yang miskin dan tak punya apa-apa. Bagaimana ia merintis bisnis dari nol. Saya juga mengingatkan janji Tuhan dalam Mazmur 37:6. Baru kemudian ia menyadari, ada harta lebih besar yang ia sia-siakan selama ini, yakni kekuatan dan penyertaan Tuhan. Ia sadar bahwa menangisi apa yang sudah dirampok orang hanya akan “menghabiskan” seluruh hidupnya. Maka, ia bangkit merintis pekerjaan lamanya, mengangsur utang di bank, dan melupakan kepahitan hatinya. Kini ia kembali berjaya, walau dengan perjuangan. Bertahun-tahun kemudian terungkap bahwa orang yang menipunya dulu, kini dipenjarakan sebagai koruptor besar uang negara.

Harta dunia adalah titipan Tuhan. Ketika berkat datang, kita bersukacita. Akan tetapi, ketika rugi, tertipu, bangkrut, bagaimanakah sikap kita? Kiranya kita meneladani Ayub saat menghadapi kemalangan, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya, Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil” (Ayub 1:21). Janganlah hati kita melekat pada harta. Mari berpaut pada Sang Sumber berkat, maka kita takkan berkekurangan –SST

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh

Oleh: onewords | Juni 8, 2011

Kyrie Eleison

08 June 2011

Bacaan Setahun :
Ayub 29-31

Nats :
Menjauhlah dari padaku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan, sebab TUHAN telah mendengar tangisku (Mazmur 6:9)

Kyrie Eleison

Mazmur 6

Lagu gereja bertema memohon belas kasihan Tuhan dikenal dengan istilah Kyrie Eleison, yang berarti “Tuhan kasihanilah”. Lagu ini biasanya dinyanyikan saat umat memohon belas kasihan Tuhan dalam tata ibadah pengampunan dosa.

Penulis Mazmur 6 pun tengah memohon belas kasihan Tuhan. Alasannya, karena ia merana (ayat 3). “Merana” diterjemahkan dari bahasa Ibrani umlal yang berarti “lemah atau rentan”. Pemazmur mengakui kelemahan dan kerentanan dirinya dalam menghadapi orang-orang yang hendak melakukan kejahatan terhadapnya (ayat 9). Itulah sebabnya ia mengeluh dan menangis sepanjang malam (ayat 7, 9). Yang menarik adalah bahwa dalam situasi seperti itu, pemazmur pertama-tama tidak merancang strategi A, atau B, atau C. Hal yang ia lakukan pertama-tama adalah melibatkan Tuhan dalam situasinya dan mengakui kerentanannya sendiri. Ia membawa persoalannya kepada Allah yang walaupun bisa menghukum dan bisa marah (ayat 2), juga ia yakini penuh kasih setia (ayat 5) serta sedia mendengar keluhan; rintihan orang yang lemah dan dijahati sesamanya (ayat 9, 10). Bagi pemazmur, Allah bukan ada di awang-awang. Allah adalah Pribadi yang nyata melakukan pembelaan dan menolong mereka yang umlal, yang lemah dan rentan.

Apakah saat ini hati Anda sedang sakit, sedih, dan perlu pertolongan? Apakah hidup Anda sedang diimpit permasalahan dan kesukaran, dan Anda merasa merana sendiri? Jika Anda sedang resah, datanglah kepada Allah dan dengan jujur memohon: “Kyrie Eleison … Tuhan kasihanilah … aku orang lemah. Engkaulah harapan dalam menghadapi keresahanku ini.” Anda tidak sendirian! –DKL

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh

Oleh: onewords | Juni 7, 2011

Menemukan Tuhan

07 June 2011

Bacaan Setahun :
   Ayub 26-28

Nats :
Kemudian karena tangan murah Allah kami itu melindungi kami, didatangkanlah oleh mereka kepada kami orang-orang yang berakal budi … (Ezra 8:18)

Menemukan Tuhan

Ezra 8:15-23

Banyak orang berusaha menemukan dan merasakan kehadiran Tuhan dengan mencari mukjizat-mukjizat atau tanda-tanda ajaib yang besar. Padahal, jika kita berusaha merasakan hadirat Tuhan lewat hal-hal spektakuler saja, akan sangat mungkin sukacita kita hanya bersifat sementara. Sebab setelah sekian waktu, hadirat Tuhan seolah-olah tak lagi dirasakan. Dan, kita bisa mudah menjadi kecewa jika tak segera ada hal spektakuler yang terjadi lagi.

Kita dapat belajar dari pengalaman Ezra yang menemukan dan merasakan hadirat Tuhan bukan sebatas pada hal-hal spektakuler yang ia alami. Ia justru menemukan Tuhan dengan memaknai hal-hal kecil, sederhana, sehari-hari, melalui mata imannya. Perikop Alkitab hari ini ialah bagian dari kesaksian Ezra tentang bagaimana ia dan rombongannya bisa tiba di Yerusalem dari Babel dengan selamat. Di situ ia menceritakan dua peristiwa yang ia alami; yaitu terkumpulnya orang-orang yang tepat (ayat 18-20) dan perjalanan yang aman (ayat 21-23). Bukankah kedua peristiwa ini sebetulnya tampak “biasa saja”? Orang yang bukan umat Allah pun bisa mengalami kedua hal tersebut. Akan tetapi, karena Ezra melihat kedua peristiwa ini dari sudut pandang iman, maka hal-hal tersebut membuatnya merasakan kehadiran dan penyertaan Tuhan yang jelas.

Mari kita senantiasa membuka hati bagi kehadiran Tuhan secara nyata, dengan selalu mensyukuri hal-hal sehari-hari yang tentu terjadi karena kebaikan dan perkenan Tuhan. Maka, tidak ada hari yang berlalu dengan biasa, sebab selalu ada campur tangan Tuhan yang luar biasa –ALS

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh

Oleh: onewords | Juni 6, 2011

Gigih Berkata Ya

06 June 2011

Bacaan Setahun :
   Ayub 22-25

Nats :
Sebab itu, jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai sejahtera bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni (2 Timotius 2:22)

Gigih Berkata Ya

2 Timotius 2:14-26

Sebagian orang menggambarkan kekudusan sebagai sikap antipati terhadap kesenangan-kesenangan tertentu. Tidak boleh menonton film, tidak boleh menonton televisi, tidak boleh mendengarkan dan menyanyikan lagu duniawi, tidak diperkenankan makan hidangan tertentu. Gambaran seperti itu justru mengaburkan makna kekudusan.

Paulus menggambarkan kekudusan sebagai dua proses berkesinambungan. Kekudusan mengandung aspek menjauhi (berkata tidak pada) sesuatu, sekaligus mengejar (berkata ya pada) sesuatu yang lain. Karenanya, berfokus pada aspek berkata tidak pada dosa saja tidak cukup. Biasanya itu akan menjerat kita dalam lingkaran setan berusaha, gagal, berusaha lebih keras, gagal, berusaha lebih keras lagi, gagal lalu frustrasi.

Kita perlu melengkapinya dengan berkata ya pada Kristus, dengan menaati kehendak-Nya. Bahkan, inilah seharusnya fokus utama kita. Penyair Scott Cairns mengungkapkan, “Orang yang paling kuat di dunia ini tidak cukup untuk menang atas dosanya sekadar dengan berkata tidak pada dosa itu. Yang kita perlukan ialah anugerah yang membangkitkan kekuatan disertai dengan kesediaan kita untuk berkata ya pada sesuatu yang lain, berkata ya, dan ya, dan ya tanpa henti-henti pada Seseorang, yaitu Kristus.”

Anda bergumul dengan dosa tertentu? Tentu saja Anda perlu meminta anugerah Tuhan agar mampu menjauhinya. Namun, mintalah pula ide dan kekuatan untuk menemukan dan menjalankan aktivitas yang selaras dengan kebenaran firman-Nya. Dengan demikian, perhatian Anda tidak lagi tertuju pada dosa, melainkan terarah pada kasih dan kekudusan Tuhan –ARS

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh

Oleh: onewords | Juni 5, 2011

Rajawali Dan Matahari

05 June 2011

Bacaan Setahun :
   Ayub 19-21

Nats :
Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali (Mazmur 103:5)

Rajawali Dan Matahari

Mazmur 103:1-5

Kini memang eranya alat elektronik canggih. Kita dibuat kagum dengan banyaknya macam dan kehebatan alat elektronik. Namun, betapa pun hebatnya alat-alat itu, tak ada satu pun yang berguna jika tidak mengandung daya listrik. Jika baterainya melemah, maka saatnya alat itu harus dihubungkan kembali dengan sumber listrik. Sampai ia siap dipakai lagi.

Pemazmur melukiskan kondisi rohani kita dengan ilustrasi burung rajawali (ayat 5). Rajawali bukannya tak bisa menjadi lelah. Bisa. Apalagi ia suka terbang tinggi. Namun, ia punya cara mengatasinya, yakni mendekatkan diri ke arah matahari. Bahkan di wilayah empat musim, ia punya kebiasaan unik pada musim semi, yakni naik di ketinggian terbuka sambil berjemur di bawah cahaya sang surya. Sementara ia menyerap energi matahari, lapis luar bulu-bulu badannya rontok; hingga terjadilah “peremajaan” pada dirinya. Setelah itu, ia kembali terbang dengan kekuatan dan penampilan baru. Begitulah keintiman kita dengan Tuhan. Tuhan menyediakan limpahan kasih setia dan rahmat. Serupa rajawali yang diterpa cahaya matahari dikuatkan, disegarkan kita pun dapat “diremajakan” dengan semangat dan kekuatan baru.

Apakah Anda letih secara rohani? Anda tidak sendiri. Tiap anak Tuhan mengalaminya. Kita bisa lesu rohani akibat kesibukan, hantaman kesusahan hidup, dan deraan rasa bersalah. Jangan biarkan berlarut-larut. Apa pun yang terjadi, jangan menjauh dari Tuhan! Hanya pada-Nya kita menemukan rahmat dan pengampunan (ayat 3). Hanya Dia sumber kekuatan kita. Carilah Tuhan. Temui hadirat-Nya. Akrabi firman-Nya. Hadirilah persekutuan anak-anak-Nya. Dia pasti menyegarkan jiwa dan membarui kekuatan Anda –PAD

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.