Oleh: onewords | Januari 17, 2011

Bukan Pekerjaan Biasa

17 January 2011

Bacaan Setahun :
Kejadian 49, Keluaran 1

Nats :
Tetapi Tuhan menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi orang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya (Kejadian 39:2)

Bukan Pekerja Biasa

Kejadian 39:1-6,20-23

Dr. Cai Ming Jie, seorang Ph.D. lulusan Stanford University, memutuskan untuk menjadi seorang sopir taksi setelah kehilangan pekerjaannya. Dr. Cai Ming Jie tidak hanya berani menghadapi hidup dengan melakukan pekerjaan yang mungkin jauh dari impiannya, tetapi juga berusaha melakukan yang terbaik. Ia mencatat pengalamannya sebagai sopir taksi dalam sebuah blog: A Singapore Taxi Driver’s Diary. Itu menjadikannya bukan “sopir taksi biasa”.

Yusuf juga pernah mempunyai pekerjaan yang bukan merupakan impiannya. Menjadi budak, jelas bukan cita-cita Yusuf, si anak orang kaya. Namun apa daya, ia dijual dan harus menjadi budak. Pilihannya hanya dua. Sekadar menjadi budak atau menjadi budak yang baik. Dalam situasi sulit itu, Tuhan menyertai Yusuf (ayat 2,3). Penyertaan Tuhan menjadikannya budak yang tidak biasa. Ia menjadi budak yang “berkuasa” (ayat 4,5). Karena difitnah, Yusuf bahkan turun lebih rendah lagi. Ia menjadi narapidana. Namun kali ini pun, Tuhan tetap menyertai Yusuf, sehingga ia kembali menjadi bukan narapidana biasa, tetapi narapidana yang “berkuasa” (ayat 21-23).

Andai Anda sedang berada di lingkungan pekerjaan yang bukan pilihan Anda, jangan bekerja sekadarnya. Jangan menjadi pegawai biasa. Guru biasa. Dokter biasa. Percayalah, dunia bisa tidak adil terhadap Anda, tetapi Tuhan selalu adil. Kunci keberhasilan kita ada pada Tuhan, bukan pada dunia. Tanggung jawab kita, bukan menuntut ini dan itu, tetapi berjalan bersama Tuhan dan bekerja sebaik-baiknya. Tuhan akan memampukan kita memberi yang terbaik di tengah kondisi yang tak ideal sekalipun -GS

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh

Oleh: onewords | Desember 21, 2010

Kasih Versi Natal

… jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna (1 Korintus 13:2)

Seorang penulis memarafrasekan 1 Korintus 13 untuk menjelang momen Natal, demikian: “Jika saya menghias rumah begitu sempurna, dengan rangkaian lampu dan bola-bola, tetapi tidak menunjukkan kasih, maka saya hanya pendekor ruangan. Jika saya bersusah payah membuat kue Natal, menyiapkan hidangan Natal istimewa, tetapi tidak menunjukkan kasih, maka saya ini sekadar koki yang bekerja keras. Jika saya menyanyi di panti-panti dan memberi sumbangan Natal, tetapi tidak melakukannya dengan kasih, maka itu tak ada gunanya sama sekali.

“Kasih membuat seseorang berhenti memasak, agar ia dapat memeluk anaknya. Kasih mengesampingkan pekerjaan mendekor rumah agar ia dapat mencium suaminya. Kasih tetap sabar, meski seseorang sedang sibuk dan lelah. Kasih tidak cemburu kepada tetangga yang telah menata keramik dan taplak bertema Natal. Kasih tidak menghardik anak-anak agar tidak ribut, tetapi justru mensyukuri keberadaan mereka. Kasih tidak hanya memberi kepada mereka yang dapat membalas, tetapi justru bersukacita memberi kepada mereka yang tak mampu membalas. Kasih menanggung segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, menahan segala sesuatu. Kasih tak pernah gagal. Video games akan berlalu, kalung mutiara akan hilang, klub olahraga akan berakhir, tetapi kasih tak berkesudahan.”

Masa Natal adalah puncak kegembiraan, sekaligus puncak kesibukan bagi hampir setiap umat kristiani. Namun, jangan sampai kita kehilangan kasih, agar dengannya kita mampu bersikap benar dan turut menghadirkan damai di bumi –AW

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh

Oleh: onewords | Desember 8, 2010

Bahaya Lidah

Yakobus 3:1-12

Dorothy Nevill adalah seorang penulis Inggris yang hidup pada 1826-1913. Ia dikenal karena kepiawaiannya berbicara dan memengaruhi banyak orang pada zamannya. Suatu waktu ia pernah ditanyai tentang bagaimana seseorang dapat disebut memiliki kemampuan berbicara yang baik. Ia menjawab, “Seni percakapan yang benar bukan hanya mengatakan hal yang benar pada waktu yang benar, melainkan juga untuk tidak mengatakan hal yang salah dan tidak boleh dikatakan walau ada kesempatan sekalipun.”

Yakobus mengingatkan tentang pengaruh lidah yang luar biasa, bahwa anggota tubuh yang kecil ini sanggup mencetuskan perkara besar (ayat 5). Ya, tak jarang hal-hal susah dan senang, sedih dan gembira, tragedi dan komedi, justru berawal dari apa yang diucapkan lidah. Lalu, apakah itu berarti lebih baik diam daripada berbicara? Tidak. Yang harus kita lakukan bukan “tidak memakai” lidah-dalam arti tidak usah bicara, melainkan “memakai” lidah dengan baik, yakni berbicara untuk sesuatu yang benar pada saat yang benar. Kalau pun harus berdiam diri, berdiam diri dengan benar pula. Untuk itu, kita perlu memasang kekang pada lidah (Yakobus 1:26).

Orang yang dapat mengendalikan lidahnya adalah orang yang hanya akan berkata-kata kalau ia tahu betul kata-katanya itu benar, berarti, menghibur, menopang, dan menjadi berkat bagi yang mendengarnya. Dan, memilih diam kalau ia tahu apa yang akan dikatakannya tidak jelas kebenarannya, tidak berarti apa-apa, tidak menjadi berkat; malah menyakiti, menimbulkan gosip, dan permusuhan –AYA

Bacaan Setahun :
Daniel 8-10

Nats :
Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan hal-hal yang besar (Yakobus 3:5)

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh

Oleh: onewords | Desember 7, 2010

Apa Kata Anda?

Matius 16:13-20

Murid-murid Yesus telah cukup panjang melewatkan waktu bersama Yesus. Mereka telah melihat berbagai karya dan mukjizat Yesus; memberi makan lima ribu orang; memberi makan empat ribu orang; menyembuhkan banyak orang sakit; dan sebagainya. Suatu saat, Yesus dan murid-murid tiba di Kaisarea Filipi. Di situ Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya mengenai siapa diri-Nya. Dia ingin tahu pendapat para murid mengenai diri-Nya. “Menurut kamu, siapa Aku ini?” Anehnya, dari dua belas murid itu, hanya satu yang angkat bicara. Apakah satu suara ini mewakili sebelas suara lain? Atau, sebelas yang lain itu tak punya pendapat karena bingung?

Lewat pertanyaan itu, Yesus ingin para murid memberi jawaban yang berasal dari pengalaman dan penghayatan hidup mereka bersama Yesus, bukan mengutip kata orang lain. Ketika Petrus mengatakan “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!”, ini jawaban yang berbeda dengan pendapat umum yang menyebut Yesus “Yohanes Pembaptis, Elia, Yeremia, atau salah seorang nabi.” Jawaban yang muncul dari pengenalan pribadi semacam ini dihargai Yesus sebagai karya Allah dalam hati orang beriman. Kata Yesus: “… bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku” (ayat 17).

Siapa Yesus menurut Anda? Adakah jawaban Anda berasal dari pengalaman bersama Tuhan? Atau, kita masih mengutip kata-kata orang, khotbah pendeta, tulisan dalam sebuah buku? Hal-hal itu memang berguna, tetapi lebih dari itu Tuhan ingin kita mengenal-Nya secara pribadi melalui kehidupan yang dijalani bersama-Nya. Kiranya setiap hari kita makin mengenal Yesus, agar dapat bersaksi kepada dunia dengan keyakinan bahwa Dialah Tuhan –DKL

Bacaan Setahun :
Daniel 5-7

Nats :
Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini? (Matius 16:15)

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh

Oleh: onewords | Desember 6, 2010

Kerja Keras

Rut 2:1-16

Di mana ada usaha, di situ ada jalan”. Ungkapan ini tampaknya cocok dengan pengalaman Rut bersama Tuhan. Setelah Rut mengambil keputusan untuk meninggalkan Moab dan hidup bersama Naomi di Israel, ia pun mengambil keputusan untuk tidak tinggal diam. Rut meminta izin agar ia dapat pergi ke ladang untuk mengumpulkan jelai. Tujuannya jelas: supaya ia dapat membantu mertuanya mendapatkan makanan. Hasil kerja Rut ternyata tidak sia-sia. Ia tidak hanya dapat mengumpulkan banyak jelai, tetapi di ladang itulah ia juga berjumpa dengan Boas.

Adakah campur tangan Tuhan di sana? Tentu saja. Ketika Rut bekerja keras, Tuhan membuka jalan. Ketika Rut dengan segenap hati memungut jelai, Tuhan memberi lebih. Seseorang pernah mengatakan kepada saya, “Tuhan tidak akan memberkati orang malas.” Ini benar karena di dalam Alkitab, Tuhan menentang kemalasan. Firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa orang malas lebih baik tidak usah makan (2 Tesalonika 3:10). Ia bahkan harus belajar kepada semut (Amsal 6:6). Tuhan tidak pernah menciptakan manusia untuk menjadi pemalas. Tuhan mencipta manusia sebagai makhluk yang bekerja.

Mulai sekarang, jangan hanya duduk diam menanti berkat turun dari surga. Lakukanlah sesuatu. Berikan yang terbaik dari kesanggupan yang ada pada kita. Bekerjalah dengan sepenuh hati. Itulah bagian kita. Sertai dengan doa di segala waktu. Kita tidak pernah tahu bagaimana Tuhan akan memakai sesuatu yang kita lakukan dengan sepenuh hati saat ini, untuk menghasilkan hal-hal yang luar biasa kelak –RY

Bacaan Setahun :
Daniel 3-4
1 Yohanes 5

Nats :
Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak (Amsal 6:6)

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh

Oleh: onewords | Desember 3, 2010

Tragedi

Lukas 16:19-31

Film garapan James Cameron, Titanic, melukiskan tragedi tenggelamnya kapal pesiar raksasa yang memakan korban ribuan jiwa pada malam dingin di tengah Samudra Atlantik. Di hari tuanya, seorang saksi hidup, Rose Calvert, mengenang tragedi itu dan berkomentar dalam sinisme pedih: “Malam itu ada 1.500 orang tewas bersama tenggelamnya kapal. Hanya 6 jiwa yang berhasil diselamatkan, termasuk aku. Padahal ada 20 kapal sekoci di dekat kami, yang sebenarnya masih bisa menampung penumpang, tetapi mereka diam dan menunggu. Menunggu pertolongan lain datang dan menunggu satu per satu jiwa melayang ….”

Tragedi selalu ada. Namun, ada tragedi yang sebetulnya tak perlu terjadi. Paling tidak, tak perlu separah itu, asal ada orang yang mau berbuat sesuatu. Kematian tragis Lazarus dalam perumpamaan Yesus ini adalah contohnya. Mati karena sakit dan lapar, sementara di dekatnya ada orang kaya yang punya segala kesempatan dan potensi untuk menolong. Namun, ternyata ia tidak berbuat apa-apa, sampai terjadi tragedi itu. “Kemudian matilah orang miskin itu …” (ayat 22).

Mengapa ia tidak berbuat sesuatu? Adegan di alam maut menjawabnya. Ia tak pernah tahu rasanya kesakitan. Baru di situ ia tahu rasa! Tahu benar perihnya kulit terbakar dan keringnya kerong-kongan karena dahaga (ayat 24). Sayang, sudah terlambat. Andai waktu masih hidup ia tahu sakitnya penderitaan Lazarus, mau peduli dan berempati, ceritanya akan lain.

Belum terlambat bagi kita untuk berempati dan peduli. Masih banyak “Lazarus” yang menanti seseorang berbuat sesuatu. Daripada menunggu, lebih baik berbuat sesuatu –PAD

Bacaan Setahun :
Yehezkiel 45-46
1 Yohanes 2

Nats :
Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah! Tuhan akan meluputkan dia pada waktu celaka (Mazmur 41:2)

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh

Oleh: onewords | Desember 2, 2010

Keluar Dari Batas

Kisah Rasul 11:1-18

Bagi para remaja, ada kecenderungan untuk suka berkelompok atau memiliki geng-yang biasanya eksklusif. Pada umumnya, hal-hal mendasar yang membentuk adanya geng adalah kesamaan latar belakang sosial, daerah, sekolah, selera, dan sebagainya. Manfaatnya, menjadi sarana menyalurkan semangat. Dan, jika ada orang baru masuk, anggota geng cenderung menutup diri; menganggap orang lain penyusup, pengganggu kekompakan, dan sebagainya.

Sebagian besar orang percaya mula-mula di Yerusalem juga merupakan kelompok yang “eksklusif” pada saat itu. Mereka menerima dan menghidupi ajaran secara turun-temurun, termasuk soal pergaulan dengan bangsa-bangsa lain, di luar Yahudi. Secara khusus Petrus dituduh rekan-rekannya melanggar hukum Taurat tatkala ia melanggar kelaziman saat itu: datang, tinggal, dan makan dengan pihak luar, yakni Kornelius, seorang perwira Romawi. Namun, Petrus punya alasan yang kuat. Allah sendiri mengajarnya melalui suatu penglihatan tentang keterbukaan rahmat Allah pada bangsa-bangsa lain. Dari situ ia tahu bahwa Tuhan pun memberikan karunia yang sama bagi bangsa-bangsa lain (ayat 17).

Petrus belajar dan mengalami bahwa kasih Allah tak boleh dibatasi untuk kelompok tertentu saja. Kepada siapa pun Allah berkehendak menyatakan diri-Nya, ke sanalah para murid perlu membuka hati untuk menerima mereka. Dengan demikian, mereka menghapus batasan-batasan yang dibuat oleh nilai-nilai hidup yang lama. Kasih Allah dalam Kristus tak boleh dibatasi oleh ras, agama, warna kulit, dan situasi sosial apa pun yang orang miliki. Semua orang berhak mendapat; mengalami kasih Allah –DKL

Bacaan Setahun :
Yehezkiel 42-44
1 Yohanes 1

Nats :
Jadi, kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup (Kisah Para Rasul 11:18)

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh

Oleh: onewords | Desember 1, 2010

Dokter Seribu Rupiah

Mazmur 37:12-26

Klinik dokter F.X. Soedanto terletak di Jayapura. Sudah 33 tahun ia mengabdi di sana. Masyarakat mengenalnya sebagai “Dokter Seribu Rupiah” sebab ia hanya mengenakan biaya Rp1.000, 00 bagi tiap pasien yang berobat. Soedanto bahkan rela tidak dibayar jika pasien benar-benar tak mampu. Semua ini ia lakukan untuk menolong orang miskin. Apakah dokter lima anak ini bisa hidup nyaman dengan penghasilan sekecil itu? Untuk hidup mewah memang tidak bisa. Ia hidup bersahaja. Kendaraannya hanya sebuah mobil tua. Namun, kepada seorang wartawan ia berkata, “Semuanya cukup bagi kami.”

Kepuasan hidup tidak ditentukan dari banyak sedikitnya harta. Dalam Mazmur 37, pemazmur membandingkan antara hidup orang fasik dan orang benar. Orang fasik bisa saja punya harta berlimpah (ayat 16) yang diperoleh dengan cara menipu (ayat 21), menindas orang miskin, dan mengalahkan orang jujur (ayat 14). Namun, semua harta itu tak akan mampu membahagiakan hidupnya. Tanpa penyertaan Tuhan, semua yang ia kumpulkan bisa habis dalam sekejap (ayat 20). Sebaliknya, orang benar disertai Tuhan. Harta bendanya mungkin sedikit, tetapi berkat dan pertolongan Tuhan menjaga tiap langkahnya. Dengan demikian, ia bisa mengalami kecukupan. Kenyang pada hari-hari kelaparan, bahkan masih bisa memberi pinjaman!

Jika Anda percaya bahwa masa depan Anda bergantung pada jumlah harta simpanan, Anda bisa menjadi seorang penimbun yang serakah. Ingatlah bahwa faktor penyertaan Tuhan adalah penentu masa depan. Yakinilah itu, Anda akan menjadi seorang benar yang pemurah –JTI

Bacaan Setahun :
Yehezkiel 40-41
2 Petrus 3

Nats :
Lebih baik yang sedikit pada orang benar daripada yang berlimpah-limpah pada orang fasik (Mazmur 37:16)

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh

Oleh: onewords | November 30, 2010

Bersyukur Saat Kecopetan

Efesus 5:15-21

Matthew Henry, penelaah Alkitab dan penulis buku klasik, Commentary on the Whole Bible, suatu hari mengalami kejadian naas. Beberapa pencopet menyerangnya dan merampas dompetnya. Lalu ia menulis kata-kata berikut di dalam buku hariannya:
“Saya bersyukur karena:
1. saya tidak pernah kecopetan sebelumnya;
2. meskipun mereka mengambil dompet saya, mereka tidak mengambil nyawa saya;
3. meskipun mereka mengambil semua uang di dompet saya, jumlahnya tidak banyak;
4. saya orang yang kecopetan, bukan saya yang mencopet.”

Rasul Paulus mendorong kita untuk mengucap syukur senantiasa dan atas segala sesuatu. Itu berarti kita perlu mengucap syukur di sepanjang hidup kita dan untuk apa saja yang kita alami. Kita bukan hanya mengucap syukur atas berkat rohani dan kehidupan kekal yang Tuhan anugerahkan, melainkan juga atas pemeliharaan-Nya hari demi hari. Bukan hanya atas keadaan baik yang kita alami, melainkan juga atas penderitaan yang diizinkan-Nya terjadi untuk membentuk karakter kita. Dan, bukan hanya atas apa yang terjadi pada kita, melainkan juga atas kemurahan Tuhan pada orang lain.

Ketika keadaan buruk menimpa kita, seperti dialami Matthew Henry, kita mungkin merasa sulit untuk mengucap syukur. Alih-alih menggerutu dan bersungut-sungut, kita dapat belajar melihat sisi cerah dari setiap keadaan, bahkan dari suatu pengalaman buruk. Kita mengucap syukur karena di tengah masalah itu Tuhan justru memberi kita kekuatan untuk menghadapinya dan menggunakan masalah itu demi meneguhkan karakter kita –ARS

Bacaan Setahun :
Yehezkiel 37-39
2 Petrus 2

Nats :
Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita (Efesus 5:20)

Copyright – SABDA.org – http://www.sabda.org/publikasi/e-rh

Oleh: onewords | November 29, 2010

Kesempatan Terakhir

Pernah dengar “Kesempatan Terakhir”?

Sebagian besar di antara kita pasti pernah dengar dan mengetahui teman, sahabat, keluarga bahkan mungkin kita sendiri yang mengabaikan Kesempatan Terakhir. Saat Kesempatan Terakhir itu sudah tejadi, yang ada hanyalah penyesalan karena kita tidak mengoptimalkan kesempatan tersebut.

Kesempatan Terakhir tersebut mungkin saja pilihan akan usaha kita, jodoh yang telah Tuhan sediakan bagi kita, bahkan yang lebih terpenting adalah Kesempatan Terakhir di akhir hidup kita. Apakah yang akan terjadi di akhir kehidupan ini?

Mungkinkah Kesempatan hidup ini akan terulang kembali?

Mungkinkah kita sempat memberikan yang terbaik bagi teman, sahabat dan keluarga?

Hadirilah Pagelaran Drama “Kesempatan Terakhir” yang akan diselenggarakan pada hari Sabtu, 18 Desember 2010 – pkl 18.00 (pagelaran I), Minggu, 19 Desember 2010 – pkl 14.00 (pagelaran II), Minggu 19 Desember 2010 – pkl 18.00 (pagelaran III) yang akan memperlihatkan Kesempatan Terakhir kehidupan kita di dunia ini.

Keputusan saat ini, mungkin menjadi Kesempatan Terakhir bagi kita untuk melakukan sesuatu bagi orang orang yang ada di sekeliling kita. Pergunakanlah waktu, kemampuan, doa, dana serta apapun yang dapat kita lakukan secara maksimal, karena inilah Kesempatan Terakhir.

*) forwardlah email ini kepada teman, sahabat dan keluarga Anda, karena mungkin ini Kesempatan Terakhir Anda mengirim dan memberi tahu Kesempatan Terakhir kepada mereka.

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.